Selasa, 27 Desember 2011

Maaf dan ego

Seberapa banyak dari kita yang sering mengucapkan kata itu?
Mengucapkan kata maaf terkadang tidak mudah. Kita harus meluruhkan harga diri, dan ego kita. Dengan meminta maaf, secara tidak langsung kita telah mengakui bahwa diri kita melakukan kesalahan. Tapi dengan begitu kita akan belajar untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak selamanya benar.

Dan tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang merasa tidak nyaman dengan eksistensi saya.

Entahlah, belakangan ini hubungan personalku dengan beberapa orang tidak berjalan baik. Mungkin seambrek kesibukanku membuatku terlihat apatis, gak-mau-tahu dengan segala hal yang berotasi dalam duniaku, sehingga kita semakin berjarak. Atau Mungkin sifatku yang arogan dan sifat-sifat yang dianggap minus lainnya menaikkan tensi beberapa orang.

Ada yang dengan terang-terangan marah, ada pula yang hanya berani bicara di belakangku. Tak pelak pula ada yang mendiamkanku begitu saja. Ah, aku jadi keki sendiri, teringat tulisan yang baru beberapa hari yang lalu aku posting; tentang MARAH. Aku sendiri termasuk orang yang sulit untuk mengungkapkan marah secara verbal.

Tapi Ya… kembali lagi, itu cara kalian memberiku efek jera, mungkin. Marah lah. Itu lebih baik. Aku hargai itu. Tapi plis, beri satu penjelasan saja apa yang membuat kalian marah. Kalau memang pada kenyataannya aku salah, ya sudah, aku akui kesalahan itu. Kalau ada yang berani “ngalah” untuk menjadi orang pertama yang minta maaf, lantas apa susahnya memberi maaf? :)

Hmmm… udah ah, tulisan ini akan semakin gak jelas kalau diterus-terusin…
Gud night everyone,
keep your heart alive, live your life fully <3

Minggu, 25 Desember 2011

Other part of my self

Agak lebay mungkin kalau mengatakan beberapa hari ini aku terlalu sensitif. Terlalu banyak hari yang kulewati dengan murung dan mengurung diri. Kalu sudah over, aku akan masuk kamar dan mendekap bantal, menutup wajahku erat2 dan berteriak. Bodoh bukan? Haha. Tidak mungkin aku menyalahkan diriku sendiri atas beberapa kondisi yang mengubahku dalam sekejap menjadi orang yang paling konyol dan bodoh, dan aku baru saja menertawai diriku sendiri. Actually, what I want to say is that it isn't pure my faults. It's just full of damn suck stuffs, which done by her irrational arrogant behavior. Seandainya aku bisa terus terang kalau aku benar-benar marah. Lagi-lagi aku hanya diam tadi, dan ngacir begitu saja, meloloskan kesempatanku untuk memakinya atau mungkin menjambaknya. Aku benar-benar marah stadium akhir. Ah, sudahlah... semoga cewek menyebalkan itu mendapat balasannya, aamiin... loh loh, hehe