Ah, hujan lagi-lagi bertandang sore ini. Tidak seperti ekspektasi sebelumnya: sore ini akan cerah, mega-mega merah akan berkumpul di barat mengantarkan sang surya kembali ke peraduannya, dan tepat di kafe ini aku akan menikmati keindahan alam itu bersamanya… dia… pria macho itu.
Tapi kali ini ceritaku akan sedikit berbeda mungkin. Sore ini tidak akan kami habiskan dengan bermandikan cahaya keemasan dan hangatnya matahari sore. Justru gemericik air yang melompat-lompat kecil menerobos lewat teralis jendela, ditambah angin mendesau menciptakan melodi tersendiri yang mengiringi sore indahku, bersamanya…
Ah, akhirnya dia datang juga. Masih seperti itu. Tetap saja seperti itu. Kaos oblongnya, celana jins yang berlubang di bagian dengkul, dan rambutnya yang acak-acakan… Dari arah pintu dia dapat dengan langsung mendeteksi keberadaanku. Kini kami duduk berhadapan. Kubiarkan dia memesan menu favoritnya yang juga merupakan kesukaanku; segelas kopi original, di senja menghimpit…
Tanpa muqoddimah panjang atau sekedar basa-basi menanyakan kabar, dia langsung saja menyerocos tentang hal yang menjadi, melalui proses dialektis antara ada dan tiada… mereka saling bernegasi, berkontradiksi, bermediasi yang tidak hanya berada dalam idea tapi di dalam dunia nyata. Oh,man… kau memulai diskusi kita terlalu dini! But I really love it :D
Entah akan ke arah mana perbincangan ini akan bermuara.. Kita terus saja bertukar argument, ide, dan rasanya aku ingin menumpahkan seluruh isi otak ini… kita berbicara ini itu, distorsi kehidupan, keterpisahan kognisi manusia dengan nilai-nilai transendental, skripturalisme Qur’an, teleologi, ah… kepalaku rasanya mumet tapi sangat sangat menikmatinya.
Pria macho itu mulai mengambil satu pack rokok A-mild dari saku belakang jinsnya. Diambilnya sebatang, lalu disulutnya. Tak lama asap hadir di tengah-tengah kami, sedikit menghalangi pandanganku sih… tapi hal itu tidak pernah menghalangi ruang diskusi kami. Entah darimana rasa itu datang, adiksi akan dirinya…
Apalagi sekarang bung? Persetubuhan rasio, persepsi dan hati nurani?iya iya, aku ingat… David Humme “I never catch myself at anytime without any perception”… apakah bagimu sebuah eksistensi lebih berpengaruh daripada esensi yang terkandung di dalamnya?
Aku menyeruput kopi terakhirku, berbarengan dengan rintik terakhir hujan menutup sore dingin yang hangat dengan kehadirannya… mmm, sepertinya dia bergegas pulang. Aku ingin mencegahnya, menahannya lebih lama lagi untuk sekedar membicarakan hal-hal di luar filsafat, kemapanan logika dan esensi kehidupan, atau lainnya, kehidupannya mungkin. Tapi untuk masalah hati aku tidak sefasih ketika berbicara tentang eksistensi religious, eksistensi sosial maupun eksistensi cultural…
Adzan maghrib tiba-tiba hadir memecah pikiranku yang daritadi sibuk sendiri. “Ayo sholat dulu...” ucapnya singkat lantas menghilang begitu saja di pintu keluar kafe. Aku masih duduk termangu, meresapi sisa sensasi yang dia tinggalkan bersama aroma kopi yang menguap begitu saja di senja menghimpit…