Kamis, 19 Januari 2012

sensasi (kopi - pria macho)

Ah, hujan lagi-lagi bertandang sore ini. Tidak seperti ekspektasi sebelumnya: sore ini akan cerah, mega-mega merah akan berkumpul di barat mengantarkan sang surya kembali ke peraduannya, dan tepat di kafe ini aku akan menikmati keindahan alam itu bersamanya… dia… pria macho itu.

Tapi kali ini ceritaku akan sedikit berbeda mungkin. Sore ini tidak akan kami habiskan dengan bermandikan cahaya keemasan dan hangatnya matahari sore. Justru gemericik air yang melompat-lompat kecil menerobos lewat teralis jendela, ditambah angin mendesau menciptakan melodi tersendiri yang mengiringi sore indahku, bersamanya…

Ah, akhirnya dia datang juga. Masih seperti itu. Tetap saja seperti itu. Kaos oblongnya, celana jins yang berlubang di bagian dengkul, dan rambutnya yang acak-acakan… Dari arah pintu dia dapat dengan langsung mendeteksi keberadaanku. Kini kami duduk berhadapan. Kubiarkan dia memesan menu favoritnya yang juga merupakan kesukaanku; segelas kopi original, di senja menghimpit…

Tanpa muqoddimah panjang atau sekedar basa-basi menanyakan kabar, dia langsung saja menyerocos tentang hal yang menjadi, melalui proses dialektis antara ada dan tiada… mereka saling bernegasi, berkontradiksi, bermediasi yang tidak hanya berada dalam idea tapi di dalam dunia nyata. Oh,man… kau memulai diskusi kita terlalu dini! But I really love it :D

Entah akan ke arah mana perbincangan ini akan bermuara.. Kita terus saja bertukar argument, ide, dan rasanya aku ingin menumpahkan seluruh isi otak ini… kita berbicara ini itu, distorsi  kehidupan, keterpisahan kognisi manusia dengan nilai-nilai transendental, skripturalisme Qur’an, teleologi, ah… kepalaku rasanya mumet tapi sangat sangat menikmatinya.

Pria macho itu mulai mengambil satu pack rokok A-mild dari saku belakang jinsnya. Diambilnya sebatang, lalu disulutnya. Tak lama asap hadir di tengah-tengah kami, sedikit menghalangi pandanganku sih… tapi hal itu tidak pernah  menghalangi ruang diskusi kami. Entah darimana rasa itu datang, adiksi akan dirinya…

Apalagi sekarang bung? Persetubuhan rasio, persepsi dan hati nurani?iya iya, aku ingat… David Humme “I never catch myself at anytime without any perception”… apakah bagimu sebuah eksistensi lebih berpengaruh daripada esensi yang terkandung di dalamnya?

Aku menyeruput kopi terakhirku, berbarengan dengan rintik terakhir hujan menutup sore dingin yang hangat dengan kehadirannya… mmm, sepertinya dia bergegas pulang. Aku ingin mencegahnya, menahannya lebih lama lagi untuk sekedar membicarakan hal-hal di luar filsafat, kemapanan logika dan esensi kehidupan, atau lainnya, kehidupannya mungkin. Tapi untuk masalah hati aku tidak sefasih ketika berbicara tentang eksistensi religious, eksistensi sosial maupun eksistensi cultural…

Adzan maghrib tiba-tiba hadir memecah pikiranku yang daritadi sibuk sendiri. “Ayo sholat dulu...” ucapnya singkat lantas menghilang begitu saja di pintu keluar kafe. Aku masih duduk termangu, meresapi sisa sensasi yang dia tinggalkan bersama aroma kopi yang menguap begitu saja di senja menghimpit…





Selasa, 10 Januari 2012

10 Januari 2011

Aku pulang dari kampus dengan lemas, jalanku setengah sempoyongan, pandanganku setengah kabur, alamaaak.... rasanya mau pingsan saja hamba.

Sesampainya di kamar, aku ambruk begitu saja di atas kasur lipat yang hanya setebal 2 cm itu. Sementara para santri lainnya sibuk mempersiapkan diri menjelang pengajian ba'da ashar. Tak butuh waktu lama,, satu per satu dari mereka keluar menuju aula Pesantren, dan aku.... aku masih terbaring di atas kasur; setengah berkunang-kunang, kepalaku terasa amat berat. Sempat kubentur-benturkan kepala ini ke tembok kamar, berharap beban berat yang bersarang di kepalaku berpindah ke tembok berwarna biru cerah itu. Hasilnya? Sungguh ajaib! Saya tidak sadarkan diri setelah itu.... (alias tertidur)

Ah.... aku terbangun tepat ketika para santri pulang dari pengajian. Perasaan malu, bercampur sungkan karena tidak mengaji dengan cepat menyergapku, membuatku jadi serba salah dan serba salah tingkah ketika akan keluar kamar. Hufftt.... Tapi biarlah... (lagi-lagi kebiasaan buruk: apatis)

Hari berangsur gelap. Adzan maghrib dengan lantang dikumandangkan para muadzin, menyeruak mega merah di ufuk barat. Dengan kepala penuh dentuman bola besi aku tetap menuju Pesantren untuk mendirikan shalat maghrib, plus istighotsah. Bukan karena perasaan malu jika dilihat teman2 tidak jamaah, atau alasan lainnya. Aku memang merasa butuh, kali ini aku benar-benar butuh untuk menemui Penciptaku.

Saat istighotsah pun tiba, namun pikiranku melayang-layang mencari sesuatu. Ah, kepalaku sama sekali tidak bisa diajak kompromi, malah sekarang dia bersekongkol dengan rasa mual yang menendang-nendang isi perutku. Rabb... kulo nyuwun pangapunten sanget pokok e... mboten betaahhhh ....

Hari demi hari, semakin ke sini rasa-rasanya... hidupku tidak semakin sesuatu. Ah, kenapa jadi susah sekali aku mendiskripsikan perasaan ini? Otakku ikut-ikutan mogok kerja sepertinya. Tapi tetap ada pelajaran untuk hari ini. "Biarlah orang berkata apa. Biarlah orang menghujat apa pun atas dirimu. Jadilah dirimu sendiri. Takut lah hanya kepada Penciptamu yang memberimu kehidupan"


Apatis alias nggak-mau-tahu mungkin kurang baik. Tapi entah lah, terkadang aku bisa jadi sangat bersyukur mempunyai sifat tersebut. Lama-lama aku jadi belajar, tidak ada untungnya juga memperdulikan apa yang menjadi persepsi orang tentang kita, bagaimana mereka memperlakukan kita... terserah lah! Yang penting aku adalah aku, dan begini lah diriku. Cukup lah aku dan Tuhanku berhimpitan di ruang yang tidak akan pernah ditemukan siapa pun.. billahi ta'ala, lillahi ta'ala...



Senin, 09 Januari 2012

Huffft, susahnya memilih salah satu



Seraut wajah itu tiba-tiba muncul di suatu senja sore basah.
Dia benar-benar kembali.
Untuk beberapa saat ditatapnya diriku, bola mata itu masih sama, hanya saja ada sesuatu di sana...
Ah, pilu... aku tak kuasa menatapnya lekat-lekat.
Lantas diraihnya kedua bahuku, dikecupnya kedua pipiku dan aku berakhir dalam dekapannya.
Aku mampu merasakannya, keluh kesah itu... beban masalah itu...
Jiwa yang lamat-lamat meraih kesadarannya...
"Aku merindukanmu, mbak..." ucapku sembari terus mendekapnya.


..............................................
maaf, ingin rasanya kata itu kupatri di lidah ini agar tak lengang aku mengulanginya.
Untuk saat ini aku masih belum bisa untuk bersamamu....
Aku tahu, ini terlalu personal. Egoiskah diriku yang terlalu mementingkan sesuatu selain dirimu?
Ah, seandainya kamu tahu betapa bingungnya ketika aku ditodong harus memilih salah satu.
Tapi akan lebih baik jika semuanya kusimpan sendiri.
Hanya saja... aku masih merasa bersalah dan berdosa, selalu.
Mengapa saja selalu datang ketika aku tak mampu menerima?
Maaf
Maaf lagi
Amanah itu aku titipkan pada orang lain...
Janji itu aku sembunyikan dulu di balik selimut malam....
Sementara aku harus menyelesaikan kewajiban di sini,
You know what?
Aku akan selalu mengusahakan yang terbaik untukmu, mbak...
Tapi kali ini bukan aku....
Maaf :(

Minggu, 08 Januari 2012

Distorsi


Dengan linglung
di ujung kidung mendengung
hati canggung meraung
mananti pancung?


Tidak banyak definisi yang mampu dicerap meskipun semesta sudah berulang kali mengirimkan bentuk kebesaranNya. Jiwa-jiwa terpaku pada dunia semu yang sejatinya tidak akan pernah tertuankan sampai kapan pun. Perjanjian suci dengan Pencipta memudar seiring hasrat yang memberingas untuk berkuasa; menguasai segala hal ihwal atas nama kebahagiaan, kepuasan, kemapanan dan bahkan keabadian.

Pergumulan batin dengan dunia nampaknya tidak lekas berhenti sampai di situ. Hiruk pikuk dunia semu semakin menggemakan euforianya, menjanjikan pemenuhan atas jiwa-jiwa yang merasa kosong di tengah-tengah limpahan nikmat yang seandainya saja mereka sadari. Sementara di lain tempat, yang terpanggil jiwanya akan dengan segera menemukan kembali jalan setapak menuju kekekalan yang tiada habis akan kenikmatan, selamat dari kesesatan.