Senin, 09 Januari 2012

Huffft, susahnya memilih salah satu



Seraut wajah itu tiba-tiba muncul di suatu senja sore basah.
Dia benar-benar kembali.
Untuk beberapa saat ditatapnya diriku, bola mata itu masih sama, hanya saja ada sesuatu di sana...
Ah, pilu... aku tak kuasa menatapnya lekat-lekat.
Lantas diraihnya kedua bahuku, dikecupnya kedua pipiku dan aku berakhir dalam dekapannya.
Aku mampu merasakannya, keluh kesah itu... beban masalah itu...
Jiwa yang lamat-lamat meraih kesadarannya...
"Aku merindukanmu, mbak..." ucapku sembari terus mendekapnya.


..............................................
maaf, ingin rasanya kata itu kupatri di lidah ini agar tak lengang aku mengulanginya.
Untuk saat ini aku masih belum bisa untuk bersamamu....
Aku tahu, ini terlalu personal. Egoiskah diriku yang terlalu mementingkan sesuatu selain dirimu?
Ah, seandainya kamu tahu betapa bingungnya ketika aku ditodong harus memilih salah satu.
Tapi akan lebih baik jika semuanya kusimpan sendiri.
Hanya saja... aku masih merasa bersalah dan berdosa, selalu.
Mengapa saja selalu datang ketika aku tak mampu menerima?
Maaf
Maaf lagi
Amanah itu aku titipkan pada orang lain...
Janji itu aku sembunyikan dulu di balik selimut malam....
Sementara aku harus menyelesaikan kewajiban di sini,
You know what?
Aku akan selalu mengusahakan yang terbaik untukmu, mbak...
Tapi kali ini bukan aku....
Maaf :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar