Selasa, 10 Januari 2012

10 Januari 2011

Aku pulang dari kampus dengan lemas, jalanku setengah sempoyongan, pandanganku setengah kabur, alamaaak.... rasanya mau pingsan saja hamba.

Sesampainya di kamar, aku ambruk begitu saja di atas kasur lipat yang hanya setebal 2 cm itu. Sementara para santri lainnya sibuk mempersiapkan diri menjelang pengajian ba'da ashar. Tak butuh waktu lama,, satu per satu dari mereka keluar menuju aula Pesantren, dan aku.... aku masih terbaring di atas kasur; setengah berkunang-kunang, kepalaku terasa amat berat. Sempat kubentur-benturkan kepala ini ke tembok kamar, berharap beban berat yang bersarang di kepalaku berpindah ke tembok berwarna biru cerah itu. Hasilnya? Sungguh ajaib! Saya tidak sadarkan diri setelah itu.... (alias tertidur)

Ah.... aku terbangun tepat ketika para santri pulang dari pengajian. Perasaan malu, bercampur sungkan karena tidak mengaji dengan cepat menyergapku, membuatku jadi serba salah dan serba salah tingkah ketika akan keluar kamar. Hufftt.... Tapi biarlah... (lagi-lagi kebiasaan buruk: apatis)

Hari berangsur gelap. Adzan maghrib dengan lantang dikumandangkan para muadzin, menyeruak mega merah di ufuk barat. Dengan kepala penuh dentuman bola besi aku tetap menuju Pesantren untuk mendirikan shalat maghrib, plus istighotsah. Bukan karena perasaan malu jika dilihat teman2 tidak jamaah, atau alasan lainnya. Aku memang merasa butuh, kali ini aku benar-benar butuh untuk menemui Penciptaku.

Saat istighotsah pun tiba, namun pikiranku melayang-layang mencari sesuatu. Ah, kepalaku sama sekali tidak bisa diajak kompromi, malah sekarang dia bersekongkol dengan rasa mual yang menendang-nendang isi perutku. Rabb... kulo nyuwun pangapunten sanget pokok e... mboten betaahhhh ....

Hari demi hari, semakin ke sini rasa-rasanya... hidupku tidak semakin sesuatu. Ah, kenapa jadi susah sekali aku mendiskripsikan perasaan ini? Otakku ikut-ikutan mogok kerja sepertinya. Tapi tetap ada pelajaran untuk hari ini. "Biarlah orang berkata apa. Biarlah orang menghujat apa pun atas dirimu. Jadilah dirimu sendiri. Takut lah hanya kepada Penciptamu yang memberimu kehidupan"


Apatis alias nggak-mau-tahu mungkin kurang baik. Tapi entah lah, terkadang aku bisa jadi sangat bersyukur mempunyai sifat tersebut. Lama-lama aku jadi belajar, tidak ada untungnya juga memperdulikan apa yang menjadi persepsi orang tentang kita, bagaimana mereka memperlakukan kita... terserah lah! Yang penting aku adalah aku, dan begini lah diriku. Cukup lah aku dan Tuhanku berhimpitan di ruang yang tidak akan pernah ditemukan siapa pun.. billahi ta'ala, lillahi ta'ala...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar