Detik ini aku tengah menunggu pesawat yang akan mengantarku pulang. Di luar hujan... Ah, suasana jadi mengharukan, apalagi saat berpamitan dengan teman2 tadi. Aku sangat tersentuh, guys... Tapi aku tidak menangis kok. Aku kan cewek yg tegar :D makasih udah mengantarku, makasih buat segalanya yg kalian beri selama 8 hari ini. Tidak ada satu pun yg patut aku sesali, bahkan aku sangat bersyukur karena dipertemukan dengan kalian semua... I would never forget all of you, guys... Kalian akan selalu ada di sini, tersimpan di istana terindah di dalam hatiku :)
Anganku jadi melesat kembali ke hari dimana aku mengunjungi Tanjung Bira bersama orang2 yang sangat amazing... Pantai yg sangat indah. Tidak salah jika orang2 menyebutnya sebagai "Balinya Makassar". Namun bukan hanya sekedar pasir putih, air laut yang jernih, ombak indah ataupun angin laut yg lembut membelai pipiku yg membuatku terpesona.
Malam itu, aku menemukan sesuatu yg lain...
Malam itu memang aku berniat untuk tidak tidur alias begadang hingga pagi menjelma. Diam2 aku menyelipkan keinginan untuk sekedar berbincang2 dengan para sahabat yg sungguh luar biasa. Awalnya pembicaraan itu berkutat seputar perbedaan pete alias jengkol versus terasi. Haha, lucunya kalian ini... Namun ketika malam semakin pekat, aku tahu, akhirnya perbincangan itu kian serius. Entah mereka sudah merencanakan atau bersekongkol untuk membahas tema itu... Arti kebebasan. Ah, kalian bisa membaca pikiranku? Atau mungkin kalian sudah membaca notes2ku sebelumnya. Overall, I like it...
Satu persatu dari mereka mulai mendiskripsikan persepsi mereka tentang kebebasan. Aku tahu guys, kalian ingin membantuku untuk menemukan kebebasanku bukan? Aku sangat menikmati diskusi malam itu... Berteman kopi, dan juga asap rokok yg kalian hembuskan di tengah2 perbincangan kita. Aku tiba2 saja tergelitik untuk mencoba sesuatu (dan kalian sudah tahu benar apa itu). Mungkin kalian berfikir aku gila, atau terlalu depresi dan frustrasi akan hidupku... Haha, whatever. Aku hanya penasaran, dan rasa penasaranku itu memuncak, meledak di malam itu juga. Aku sama sekali tidak berniat kalau apa yg aku lakukan itu menyinggung, atau melukai perasaan seseorang. Meski pada kenyataannya ada pihak yang jadi tidak enak hati.... Aku minta maaf yg sebesar2nya. Jujur, sebetulnya aku tidak terlalu ambil pusing atas penilaian kalian seperti apa setelah kejadian itu. Yah... It's me...
Malam genap berganti dini hari. Satu demi satu personil undur diri untuk istirahat. Diskusi berjalan dengan sisa peserta lima orang; 3 cowok, aku dan 1 teman cewek lagi. Aku... Bisa dibilang, terpesona dan antara percaya tidak percaya... akhirnya aku menemukan sosok cowok macho yg selama ini hanya hidup dalam imajiku. Tidak tanggung-tanggung, 2 cowok macho duduk bersamaku malam itu. Penampilan luar yg sangat biasa saja, bahkan terkesan seadanya, selalu berteman rokok dan gaya bicara santai namun nyambung ketika diajak berbicara tentang esensi kehidupan, pencarian jati diri dan eksistensi Tuhan. Aku suka gaya mereka... Ah, benar2 macho! Kenapa tidak dari dulu2 ya kita bertemu? Yg paling memukauku adalah pola berfikir kalian... Analogi2 kalian tentang Tuhan dan tentang eksistensi, yg dalam bahasa kalian "keberadaan". Dan tentang segitiga bersisi empat, kau benar2 memberikanku sesuatu yg tak pernah terfikirkan sebelumnya olehku. Hey, Cowok2 macho, welcome to my life. Hoho. Hmmmm... Sementara 1 teman cewek tadi... Uhh, benar2 menginspirasiku. Dia satu2nya cewek macho yg pernah aku kenal... Gayanya... I really love it :D
Di sela2 malam itu, aku menyempatkan diri untuk duduk sendiri, merenungi apa2 yg telah kuperoleh dari diskusi malam itu, mencerap rasa yg sulit kugambarkan dengan kata2. Benarkah aku telah memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang kebebasan itu... Aku duduk sendiri, di hadapanku terbentang laut yang tidak terlihat ujungnya. Ombak2 putih menggulung, berlari, lantas pecah ketika mencapai bibir pantai. Aku sekali lagi merunut hatiku, bertanya pada diri sendiri. Inikah akhir pencarianku? Entah mengapa aku menginginkan pria itu (pria yg aku bicarakan di "surat untuknya"). Bodoh mungkin. Aku sendiri tidak yakin apakah aku akan tegar ketika dia muncul, ataupun sekedar hanya mendengar suaranya di ujung telepon. Perasaanku memang betul2 aneh. Aku sangat merindukannya, dan di detik itu pula aku siap untuk melepaskannya... Bukan karena aku telah melupakan perassan istimewa itu, ataupun karena aku telah menemukan orang lain. Tidak, bukan karena itu semua. Aku yakin aku sudah melewati masa transisi yg penuh dengan perjuangan. Aku bebas sekarang. Aku tidak akan lagi merasa tersakiti ketika aku mengingat masa lalu yang merekam kisahku dengannya. Mungkin aku bersyukur, banyak hal yg aku peroleh dari masa lalu itu...
Pria macho yg menemaniku menjemput pagi sempat menertawaiku ketika mengetahui bahwa motif kedatanganku ke Makassar adalah untuk mencari kebebasan. Oh mamen... Jangan gitu, plis... Itu hanya sekitar 5-10% saja dari keseluruhan hal yg melatarbelakangi kedatanganku. Aku jadi merasa sedikit malu. Tapi tak apalah. Malam itu aku merasa benar2 bebas menjadi diriku sendiri...
Sebelum note ini berakhir, aku ingin menyampaikan penghargaanku kepada pihak2 yg sangat istimewa...
Pertama, Devita... Hey, makasi banget sudah menemukanku. Rasanya ini mengada-ada, tapi semua ini memang telah direncanakan Tuhan untukku. Aku pernah menyimpan keinginan untuk suatu saat datang kembali ke tanah kelahiranku, Makassar. Tapi aku tidak punya siapa2 lagi di sana. Eh, kok ya kebetulan banget. Beberapa bulan kemudian kamu "menemukanku" di facebook, sesaat setelah aku mengubah nama tampilanku dengan nama panjangku yg sebenarnya... Aku kamu masukkan ke grup teman2 SD di fb. Mamamiya! Rasanya seperti menemukan sepenggal kehidupanku yg sempat hilang. Kesempatan telah terbuka, dan kebetulan finansialku juga dalam keadaan yg membahagiakan. Tanpa pikir panjang (dan tanpa menunggu ACC dari ortu :P) akhirnya aku berangkat! Tapi sayangnya hingga detik aku kembali ke Jawa, kita tidak sempat bertemu. Hiks. Suatu saat semoga kita bisa bertemu ya... Amin :)
Dan...yg kedua, yg teramat penting... Kepada Firda sekeluarga yg telah menampungku di istana mereka selama 8 hari 8 malam. Apakah aku merepotkan? Oh, pastinya. Aku sadar diri kok, hehehe. Tapi firda sekeluarga menyambutku dengan hangat, menjamin tidurku (meskipun tiap malam firda tidur duluan dan meninggalkanku insomnia sendirian), makanku, mandiku, dan segalanya... Rasanya seperti keluarga sendiri. Hiks. Terharu... Terimakasih Om, Tante, Firda dan adek kakaknya... Kapan2 kalau aku ke Makassar lagi, masih mau menampungku kan? Ahaha :P
Sahabatku Buyung... Maaf ya kalau aku agak mengecewakanmu, tapi aku yakin kamu nggak marah to? Makasih udah diajak jalan2 ke benteng fort rotterdam, pantai losari dan jadi fotografer pribadiku... Oh iya, makasi juga uda ditraktir pisang epe di pinggir jalan... pesenku, belajar lagi ya, biar bisa jawab waktu aku tanya dan waktu kuajak diskusi, hehee. Tapi aku salut sama ke-PD-anmu :)
Dan... Fahmi, si Cowok macho... Oh, Gosh! I really love yourstyle. Ceritamu tentang seseuatu yg nyata ada, yg mungkin ada, dan yg mustahil ada nggak akan kulupakan... Oh iya, aku janji akan jawab pertanyaanmu tentang tuhan butuh waktu... Siapkan amunisimu boy ;)
Andy... Abang yg paling aneh di dunia. Huft. Pesanku... Be gentle! Jangan terlalu posesif kalau kamu tidak mau melihat cewek2 lari menjauhimu... Mmmm, makasih udah ngajarin logat Makassar, tapi kayaknya aku gagal... Makasi udah menyiapkan semuanya yg di Makassar untuk aku, juga traktiran coto Makassarnya.. Makasi banget...
Awan... Cowok macho kedua. Kamu satu2nya cowok yg masih kuingat nama panjang dan bentuk wajahnya setelah 12 tahun nggak ketemu. Sayang sekali malam itu di Bira waktu terasa sangat singkat. Padahal masih banyak banget yg pengen aku obrolin. Oiya, makasi uda ngikuti notes2 yg aku buat... Makasi juga buat bercandanya dengan menirukan logat Jawaku. Huft, Dasar dekil :P sedih banget lo waktu tadi kamu nggak ikut nganter ke airport, yah... Gapapa lah, aku lagi berbaik hati kali ini jadi aku nggak marah... Sukses buat skripsimu, mamen ^^
Dede... Cewek macho... Kamu keren banget mbak bro, gue suka gaya loe. Meskipun di memoriku samar2 tentang dirimu semasa kita SD dulu (apa dulu kita nggak berteman ya? Huhu) tapi sejak hidupku selama 8hari di Makassar, rasanya aku menyukaimu deh... Eits, jangan GR dulu ya... Mmm, makasi juga buat kata2 yang gue banget waktu malam itu di Bira... Yunomisowel lah... Selamat ya sudah menjadi psikolog pribadiku (haha, main rekrut ini ceritanya). Oiya, makasi juga buat detik2 terakhirku di Makasar... Makasi udah diajak ke pantai Akarena, ke Trans studio, nemenin belanja oleh2 dan ngantar aku sampe airport. Seharian tadi kita kayak orang pacaran deh, hahaha. Sukses buat skripsimu... Sampai ketemu di Jogja ya (amin) :D
Edir... Murid baru pas setelah aku pindah ke Jawa. Jadi aku nggak kenal deh... Tapi akhirnya kita kenalan. You're a nice person. Kamu baik dan loyal, selalu datang waktu acara demi aku yg datang jauh2 (GR dikit ah, haha) setia kawanmu tinggi bro, makasi juga uda ngikutin notes2ku dan mengulang2 pertanyaan "kapan ni endingnya dibuat?" senang deh punya teman kayak kamu :)
Weldy... Satu2nya teman cowok yg wajahnya sama sekali nggak berubah. Tetap bikin pengen ketawa tiap kali lihat kamu, hoho. Maaf2... Aku suka banget gaya kamu yg easy going dan apa adanya. Namun aku juga tahu, di balik sikap santaimu itu kamu berjuang buat masa depanmu. Aku dukung kamu sepenuhnya. Sukses ya... Weldy idol ^^,
Rasanya noteku ini panjang sekali, BB ku sampe habis baterainya. Maaf ya buat yg lain yg tidak bisa aku deskripsikan satu2... Nunung teman kecilku, Dwi yg selalu cantik, Nurul si ibu haji, Maman si pembalap, ria, lina, anti, Jen, wiwi, ariskawati, ariani, pman, edir yg ke Jawa padahal kunantikan di Makassar, kasmiati, makasih teman2 semuanya yg sudah memberi kehangatan dan warna tersendiri dalam perjalananku kali ini. Kalian orang2 yg spesial guys... Semoga suatu saat kita ketemu lagi, amin...
Balik ke kehidupanku...
*aduh sepertinya aku mabuk dalam mobil menuju Malang*
Well, balik ke kehidupanku... Kalian semua pasti masih bertanya2 bagaimana persepsiku saat ini tentang kebebasan... Menurutku, kebebasan adalah saat kita melakukan segala sesuatu yg masih berada dalam kontrol diri dan kita sadar atas perbuatan itu...tanpa ada intervensi dari pihak luar namun dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan agama. Kebebasan itu... Jadi diri sendiri, jadi pribadi yg sehat...
Semoga jawabanku itu cukup menjadi pemanis ending note "Arti Tanah Ini". Tapi aku kurang suka menyebut ini sebagai ending, suatu akhir... Sebab tidak ada akhir dalam petualanganku, aku akan terus berlari, menembus batas ketakutanku sendiri dan menikmati sejengkal demi sejengkal kisah yang direncanakan oleh Tuhan, yg kisah itu mungkin akan berubah dengan aktualisasi dariku...
Selama masih ada teknologi... selama bb terisi pulsa, selama modem menancap, jarak yang jauh pun akan terasa dekat kawan. Jangan sedih bila merindukanku, hehe. Hanya satu kalimat yang pantas kuucapkan untuk kalian semua... "Tena Maraeng, Dekkeng" :D
Arti tanah ini... Never ending story








