Jumat, 03 Februari 2012

Arti Tanah ini (part I)

Masih beberapa jam lagi jadwal keberangkatanku. Huft. Travel yang kupesan kemarin menjemputku terlalu cepat... Tapi tak apalah, semoga aku bisa menemukan sesuatu di bandara ini yang mampu membunuh rasa bosan akibat menunggu. 

Baiklah, aku duduk tepat di pintu keberankatan. Lumayan... Dari sini aku dapat melihat segala sesuatu, hiruk pikuk, urat nadi kehidupan Juanda... Hal yang pertama kulihat adalah satu keluarga yang tengah melepas keberangkatan seorang pria yang ujung mata dan dahinya telah dipenuhi dengan kerut. Mereka saling berpelukan dan mengecup masing-masing kening dan pipi. Aku jadi terharu melihatnya... Tak lama setelah itu datang sepasang kekasih (mungkin), si cewek bergelayutan manja di lengan si cowok. Kedua tangan Mereka bergandengan cukup lama, sembari membicarakan ini itu yang tidak dapat kudengar dengan jelas. Mungkin kata2 perpisahan, atau sekedar janji untuk saling menunggu hingga suatu saat si cowok kembali... Entahlah, tidk ada yang tahu tentang hari esok. Biarlah kedua insan itu saling mematri janji dan meluapkan harapan2 mereka, selagi waktu masih mengizinkan mereka untuk sekedar bertatap muka untuk yang terakhir kalinya... Ah, kali ini seperti momen2 yang sering tayang di film2 percintaan. Si cewek menangis dengan kalem, si cowok dengan berat hati melangkahkan kakinya meninggalkan si cewek.. Semga suatu saat kalian dapat dipersatukan kembali, aamiin... 

Masih 1jam lagi sebelum check in. Aku hendak beranjak untuk pindah tempat, namun tercegah oleh gerombolan gadis yang berlarian sambil berteriak histeris. Apa sih? Aku kembali duduk di bangku besi yang sedari tadi kuerami. Gerombolan gadis2 belia itu berteriak makin histeris ketika beberapa pria mulai memasuki bandara. Oh, anak band... Last Child namanya, kalau tidak salah... Aku rasa tidak ada salahnya mengagumi seseorang, tapi rasa-rasanya aku tidak nyaman dengan kehebohan gadis2 itu... Sudahlah, lebih baik aku langsung check in saja... 

Ini pengalaman pertamaku... Terbang... Pulang kembali ke tanah kelahiranku. Perlahan pesawat yang kutumpangi melepaskan pijakanku dari atas tanah Jawa, mengangkat tubuhku ke atas gedung2 hingga akhirnya menyentuh awan yang berarakan. Seketika itu anganku bermain dengan asaku sewaktu kecil yang mendamba menyentuh awan.. Ah, masa kecil dan tanah yang kutinggalkan... 

Hanya butuh satu jam saja aku menjelajah angkasa, hingga akhirnya aku tiba di tanah yg selalu kurindukan ini, Makassar... 

Tidak sedikit orang yang heran melihat tekadku untuk datang ke tempat ini. Seandainya mereka tahu betapa besar passion, hasratku untuk kembali merunut jejak kehidupanku yang tertinggal di tanah ini. Yah, ini hidupku dan aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan atas hidupku... Itulah alasanku. Aku ada untuk bebas. Aku ingin menembus limitasi diriku sendiri, melenyapkan jurang2 ketakutanku sendiri. 

Tanah ini benar2 tanah kebebasanku. Dan aku memang tidak berniat mengajak siapa pun dari tanah Jawa untuk datang kemari, kecuali keluargaku tentunya. Di sini aku bisa merangkai kenanganku sendiri, setidaknya untuh beberapa hari. Tapi itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku bisa sejenak melepaskan belenggu kenangan yang tidak aku inginkan di tanah Jawa, kenangan oleh seseorang yang memenuhi ruang dan waktuku. Rasanya tidak ada tempat lagi di tanah Jawa untuk menjadi diriku sendiri, tanpa ada bayang2 orang itu... Dia ada dimana2, di sekolahku dulu, di rumakhku, di jalan2 itu, di segala tempat yang aku datangi selalu menyimpan dirinya untuk diproyeksikan kembali ke dalam masa "saat ini"ku. Entahlah, semua hal itu tak enggan juga menghantuiku... Mungkin suatu saat aku akan melanjutkan hidupku di sini saja, di Makassar... Wallahu a'lam... Makassar oh Makassar, betapa aku mendambamu... 

Oh ya, Tapi terlepas dari itu semua, hal yang paling penting adalah pencarian jati diriku, keutuhan diriku yang selama di Jawa terbelenggu oleh perasaan cinta bodoh yang menjajahku... 

Well, I'm ready for the journey...





Tidak ada komentar:

Posting Komentar