Aku tidak bisa menunggu terlalu lama hanya untuk sebuah balasan sms. Akhirnya kutelepon ibundaku untuk memastikan semuanya baik2 saja (semoga masih dianggap anak, huft). Nada tunggu pertama kudengar, dan... Yak, panggilanku diterima.
"Assalamu alaikum ibuuuk" sapaku ceria seolah tidak ada apa2
"eh eh, masih berani telepon? Dimana? Makassar he? Beraninya kau sendirian kesana! Sejak kapan disana?"
Alamak...satu2 dong tanyanya, ujarku dalam hati.
"ya berani dong buk, dari hari minggu" ucapku masih dengan cengar cengir.
"di rumah siapa? Kapan pulang? Cepat pulang!"
"rumah firda tawwa... Dari hari minggu, pulang senin depan buk..."
"pake uang siapa kesana?!" tanya ibu masih dg nada marah2.
"mmh...nggg..." aku bingung menjawab.
"cepat pulang!"
"nggghhh...."
"udah, gak usah pulang sekalian!"
Alammmaaakk
"eh eh, ibuk mau oleh2 apa?" tanyaku merayu.
"mau menyogok ibu? Wes ora usah oleh2an, pulang!"
Tut tut tut. Telepon terputus.
Bundo oh bundo... Tidakkah kau memahami passion anakmu ini yg selalu mendamba untuk berkelana, mendatangi tempat2 baru, bertemu dan berinteraksi dengan orang2 di lingkungan berbeda? Aihhh, alih2 disokong dana, aku malah ditodong utk secepatnya pulang, hmmm, maaf bundo... Belum bisa sepertinya, duh gusti, ampuni kulo...
Alhamdulillah semuanya berjalan normal. Aku bersyukur dimarah2i ibu via telepon. Rasanya sedikit rinduku terobati ketika mendengar Beliau ceramah, hehee. Itu normal. Untunglah Beliau marah. Justru jalau tidak marah itu malah bahaya. Di sela2 kemarahannya, ibu juga menyeletuk tingkah Ayahku yg cuma senyum2 ketika mengetahui aku sudah di Makassar, uhhh...Ayah memang keren dah. Sementara adek Ardi heran melihat ulahku yg sok berani katanya, dan si bungsu langsung menyambar buku serta alat tulis dan seketika itu membuat list oleh2 yg harus kubawa. Hadededeh, keluargaku... Benar2 unik, I miss u all...
Sore hari merajuk, aku bersiap, seorang teman mengajak keluar. Baiklah... Jam 3 tepat kami meluncur. Panasnyo... Di tengah perjalanan Bundoku sms lagi. You know what guys, smsnya bilang apa?
"jangan keluar sama teman cowok. Cepat pulang"
Wheng? Bundoku ini punya indera keenam atau apa to kok bisa tau apa yg aku lakukan? Naluri ibu memang hebat dah.
Ampun bundo...kali ini sajo izinkan aku bandel (hehee, kayak gk pernah bandel aja aku ini)
Mmmm, bukannya aku terlalu percaya, tapi firasatku orang yg mengajakku keluar termasuk orang baik2 kok, aamiin,,semoga sajalah firasatku benar. Well, first destination was benteng fort Rottredam...foto2, berpose ria di bawah matahari yg membakar dn diliatin tukang2 yg kebetulan sedang merenovasi sebagian gedung. Hihihi, muka tembok banget sih aku? Biarlah...cuek bibeh :P
Dan aku pun teringat janjinya... Dia mengajakku keluar karena akan membicarakan sesuatu. Hmmmm, akankah dia menjadi pria macho yg mengajakku bertukar argumen? Membicarakan tentang distorsi nilai2 kehidupan, entitas kebebasan, ketidakmengetahuan manusia akan kekuatan maha agung, atau filsafat lainnya? (silahkan baca di blogku tentang persepsiku soal pria macho). Tapi plis... Aku berharap bukan persoalan hati. Waktunya tiba. Dia pun akhirnya buka mulut... Aihhh, haruskah kujawab? Sorry, I can't... We're friend, just it's used to be... No heart feeling my man... Ok? Maaf, ada banyak alasan sebenarnya kalau boleh jujur. Untuk saat ini aku tidak bisa menerima siapa pun pria yg datang (eh,nggak juga ding, lihat2 sapa dulu orangnya, hoho) jujur, aku jenuh dan lelah dengan semua tetek bengek cinta dan apa itu namanya? Rasa Sayang? Hah. Bullsh*t. Enyahlah kau cinta gombal dari muka bumi. Apakah aku terlalu arogan? Entahlah... Aku hanya mencari kebebasan... Aku ingin memerdekakan jiwa ragaku dari belenggu cinta semu nan bodoh yg lama menjajahku. Salahkah aku? Apakah aku terlalu jahat? But... I'm really disappointed. Why are you so obsessed with me? I don't belong to anyone, I mean, any boy... Do you get it, bro?
Semua uneg2ku tumpah sudah di Rotterdam...diselingi beberapa bulir air mata yg tiba2 meleleh begitu saja... Entahlah, ini perasaan sedih dan sesal atas masa laluku, atau merupakan tangis bahagia karena aku merasa sudah berada pada titik dimana aku telah yakin dan berani untuk melupakan kenangan2 pahit itu... Ah, akhirnya kau tahu bagaimana wajahku ketika menangis! Tapi tak apa lah, aku merasa sangat amat lebih baik sekarang...
Hari beranjak kian sore. Aku diajaknya ke pantai Losari, menanti sunset, foto2 lagi...diliatin orang lagi, ah...masa bodoh. Suka suka! :D
Iseng aku bertanya pada cowok ceking yg sudah kupatahkan hatinya (aih, terdengar jahat kah kalimatku barusan? Hehee, piss) tentang makna kebebasan... Dan dia menjawab sekenanya. "kebebasan ya dimana kamu bisa melakukan apa pun semau kamu" uhh, singkat sekali! >,<
Aku mengurungkan niat utk melemparkan topik2 pembicaraan selanjutnya. Maghrib tiba. Kami shalat. Makan pisang epe' di pinggir jalan dekat pantai ditemani anak2 kecil yg meminta2. Ingin aku menanyai mereka satu persatu tentang konsep kebebasan bagi mereka itu seperti apa. Tapi aku mengurungkan niatku, mereka masih terlalu polos mungkin utk memberiku secercah pencerahan...
Waktunya pulaaang! Ada sms masuk, seorang teman yg memintaku untuk mampir ke rumahnya... Baiklah... Eits? Dia lagi galau? Gara2 aku jalan sama temannya? Hassshhh. Pliss teman2... I really hate such thing!
Di tengah kepenatanku, dengan baiknya ibunya mengantarkan kopi susu... Ah, hidup memang rumit. Tapi menikmati kerumitan itu menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Layaknya meminum secangkir kopi, jika kau meminumnya cepat2, lidahmu akan sakit. Semakin terburu2 kau menyelesaikan masalah, akan banyak luka mendera jiwa dan ragamu. Namun jika kau terlalu lama menghabiskan kopimu, maka kopi itu akan dingin dan rasanya sama sekali tidak enak. Sama halnya dengan membiarkan masalah yg datang, masalah itu menjadi berlarut2 dan kau akan jenuh dan jengah untuk menyelesaikannya... Ah, otakku selalu kemana2 saat menyeruput secangkir kopi...
Tiba2 aku teringat kata2 abangku di malang, bukan kakak kandung sih, tapi dia selalu jadi tempat untukku mengadukan kegalauan, huhuhu... Aku pernah bertanya padanya tentang apa itu kebebasan. Dia menggeleng katanya belum tahu. Tapi dia menertawaiku yg jauh2 datang ke Makassar utk mencari kebebasan.
"ngapain mesti jauh2 neng? Kebebasan ada dimana2..."
Ahh...aku butuh kopi lagi...
*to be continued*





Tidak ada komentar:
Posting Komentar