Sabtu, 29 Oktober 2011

masih belum... Alhamdulillah :)

Iya, mungkin seperti itu adanya. Hingga detik ini aku masih lemah dan rapuh. Engkau belum mempercayaiku. Mungkin memang belum saatnya untuk menjadi kuat karena dengan memiliki kekuatan, mungkin aku akan melupakanMu, mungkin aku tidak akan meminta lagi padaMu di setiap waktu, mungkin aku akan bertindak  semauku sendiri…

Aku menyadari, hingga titik ini, aku masih bodoh dan tidak tahu apa-apa. Engkau belum mempercayaiku. Mungkin belum saatnya untuk menjadi pintar dan tahu akan segalanya, karena Engkau paham betul tentang diriku. Mungkin aku akan menjadi sombong jika kau lebihkan ilmu dan kepandaianku. Engkau tidak rela jika melihatku bersantai-santai; tidak perlu lagi bersusah-susah mencari ilmu yang Kau sebarkan di penjuru bumi.

Aku… sadar, hingga saat ini aku masih sering berbuat kesalahan. Engkau belum menginginkanku untuk berjalan lurus. Karena dengan menjadi orang yang selalu benar, mungkin aku tidak akan sedekat ini denganMu. Dengan berbuat kesalahan, aku justru akan berlari menujuMu, mencari jalan kembali padaMu dan mendesak agar Engkau memaafkanku. Dengan setiap kesalahan, Kau jadikan aku semakin dekat denganMu…

                Aku bersyukur menjadi orang yang lemah
                Karena dengan begitu aku akan selalu meminta tambahan kekuatan dariMu.

                Aku bersyukur belum dijadikan pintar
                Karena dengan begitu aku akan lebih sering meminta tambahan ilmu yang Kau miliki.

                Aku bersyukur masih sering melakukan kesalahan
                Karena dengan begitu aku akan senantiasa memohon tambahan petunjukMu.


                Hanya Engakau satu-satunya



LTPLM
Malang
8 Juli 2011 @ 17.50 WIB

anak-anak panah, melesatlah...

Untuk yang terakhir kalinya, sebelum aku beranjak pulang, kulihat sosoknya berdiri di balik kaca jendela. Gadis belia itu nampak galau dan letih. Hati dan fikirannya disibukkan dengan perkara masa depan yang akan diputuskan oleh ketukan palu pada sidang yang akan digelar dua hari itu. Segala aspek kehidupannya akan berubah, dimulai dari 31 Mei 2011…


                                                                                          ***
Tak banyak hal yang dapat kuceritakan darinya. Yang aku tahu, dia berasal dari Sorong. Tak jauh beda dengan perawakan orang Indonesia pada umumnya, dia berkulit sawo matang, berambut ikal dan berbola mata cokelat. Sifatnya yang pemalu, bahkan terkesan tidak percaya diri itu agak sedikit kusayangkan. Dan selebihnya, aku tidak begitu tahu. Betapa tidak, aku baru mengenalnya sejak seminggu yang lalu ketika aku ditodong untuk menjadi guru lesnya. Dan semenjak tujuh hari yang lalu itu, setiap selepas sholat Maghrib aku bertandang ke rumahnya dengan membawa kumpulan soal persiapan SNMPTN.

“Mbak, saya minta tolong mbak untuk mendampingi Fanda belajar. Kasihan dia, dulu waktu SMA di Sorong, pelajaran yang didapat tidak sebanding dengan anak-anak yang sekolah di Jawa. Umpama dalam matematika ada sepuluh rumus, di sana dia cuma diberi empat rumus saja. Mohon bimbingannya ya, mbak….” Ucap Bu Kamila saat pertama aku mendatangi rumahnya dengan diantar mas Rozi, pemilik bimbel “kejar cita”.

Sekerjap rasa kagum singgah ketika mendengarkan Bu Kamila berbicara ini-itu seputar pendidikan. Meski usia telah mengantarkannya pada fase “rambut berubah warna tanpa dicat”, namun pengetahuan Beliau terhadap pendidikan begitu up to date. Beliau begitu prihatin ketika setiap tahun ajaran baru, institusi-institusi bernamakan SEKOLAH, dengan lihainya memainkan janji-janji berasaskan PENDIDIKAN, plus embel-embel HIDUP AKAN JADI LEBIH BAIK DENGAN IJASAH.

Ya sudahlah, apa mau dikata. Ya begini ini hidup di Indonesia, mau diapakan lagi. Banyak perbincangan tentang hal itu pun tak akan merubah apa-apa. Aku lebih tertarik menceritakan secuil kehidupan Fanda yang kebetulan kuketahui …

“Mbak, kenapa saya punya otak sulit sekali berfikir tentang bahasa Inggris? Mbak punya solusi kasih lah ke saya,” ucap Fanda di suatu petang, khas dengan logat Sorongnya.

Seketika itu, kualihkan pandanganku pada kedua bola matanya yang bulat dan cokelat. “Bukan sulit berfikir, tapi memang belum kenal mendalam…” Dia hanya manggut-manggut lalu kembali mencermati soal TRUE-FALSE di halaman kedua.

Di hari-hari berikutnya, entah mengapa terbersit rasa takut. Ketakutan akan kegagalan. Ketakutan akan ketidakmampuan menerima kenyataan yang bertentangan dengan apa yang diimpikan. Sempat bermunculan rasa ragu itu, mampukah Fanda melewati tes ini mengingat pengetahuannya jika dibandingkan dengan siswa-siswi Jawa lainnya masih… ah, jahatnya aku berfikiran demikian.

“Mbak, saya mau tanya bolehkah?” di hari berikutnya Fanda nampak lebih rileks dan tidak terlalu malu-malu lagi padaku. 
"Yes, of course. What is it about?”

“Kata saya punya guru les matematika, tak baik berfikiran panjang.”
“Maksudnya?”

“tadi pagi saya tanya ke saya punya guru les matematika seperti ini: anak UB wisudanya dimana? Dia bilang saya terlalu berfikiran panjang. Dia kata tak baik, betul kah itu mbak?”
“ya…ada betulnya juga, takutnya kan kalau hal seperti itu bisa jadiin kita panjang angan-angan, jadi nggak serius ngapa-ngapain, kerjanya berangan-angan terus.”

“tapi kata saya punya guru les matematika tidak seperti itu mbak. Dia bilang saya terlalu banyak bermimpi. Itu tidak baik. Kalau satu mimpi itu gagal, mimpi-mimpi yang lain jadi ikut gagal. Hancur, rusak semua, jadi jangan terlalu jauh bermimpi,”

Aku berfikir sejenak, meraba hati yang selama ini kujadikan patokan, mendengarkan apa yang diucapkan Fanda yang notabene adalah ucapan guru les matematikanya. Ingin sekali rasanya bertatap wajah dengannya,lalu mentransfer isi otak secara instan mengenai konsep “mimpi dan impian” agar tak perlu kucari kata untuk memberikannya sebuah pengertian yang kongkrit.

Aku tersenyum kecut, terasa diejek. Bagi anak pedagang kecil sepertiku, bermimpi adalah satu-satunya hal yang membuatku senantiasa hidup. Meski tak semua orang percaya akan kekuatan dari memiliki sebuah mimpi… aku tetap mengumpulkan satu-persatu impian itu, menjadikannya pilar-pilar yang akan membangun kekuatan mimpi hingga menjadi kokoh. Akan kutancapkan erat dalam diriku. Namun, yah… pada kenyataannya, hal tersebut justru sukses membuat beberapa orang mencibir dan merendahkanku karena yang kumiliki hanya mimpi, bukan materi…

“Mbak kenapa diam saja? Saya punya pertanyaan sulit kah mbak jawab?
Nope. There is nothing difficult in this world, honey… sudahlah, jangan terlalu difikirkan kata-kata guru les matematikamu itu… yang terpenting sekarang adalah berusaha, belajar sungguh-sungguh, dan kamu harus yakin kalau kamu pasti lolos, pasti, yakin, pasti lolos!” ucapku yang tanpa kusadari begitu berapi-api.
               
Entah benar atau salahkan tindakanku yang terlalu keras menanamkan impian-impian itu dalam benak Fanda. Entah apa yang ditafsirkannya dari perkataanku tadi, dia hanya memelukku erat, erat sekali tanpa berkata sepatah katapun.

Itulah hari terakhir aku membantunya mempersiapkan diri menjelang SNMPTN. Semoga besok kau diberi kemudahan dan kelancaran, doaku menyertaimu, dik…
***

Dan untuk yang terakhir kalinya, sebelum aku beranjak pulang, kulihat sosoknya berdiri di balik kaca jendela. Gadis belia itu nampak galau dan letih. Hati dan fikirannya disibukkan dengan perkara masa depan yang akan diputuskan oleh ketukan palu pada sidang yang akan digelar dua hari itu.

Jangan kecil hati, tiada yang mustahil di dunia ini. Mungkin hidup berawal dari mimpi…, kalau seperti itu, maka berjuanglah, melesatlah bagai anak-anak panah yang terlontar dari busurnya, membelah angin, menembus impian, jadikan nyata… La tahzan adikku, Innalloha ma’ana…


* untuk Agista Fanda, Freni, adik-adikku yang lainnya, yang tersebar di seluruh jagat, berlomba-lomba meraih asa esok hari...

maaf {karena aku seorang wanita}

Maaf atas sikapku yang tidak gentle ini, jelas lah, aku cewek, gimana mau gentle? … huft, ya… maaf lagi. Aku selalu mencari-cari pembenaran atas semua yang aku lakukan. Kamu tahu betul akan hal itu. Kamu selalu marah kalau aku enggan mengakui kesalahanku… kekuranganku…

Maaf, aku tidak gentle dengan melarikan diri seperti ini. Aku benar-benar ingin menjauh sejauh-jauhnya… bukan karena ada orang lain, bukan karena rasa itu hilang… aku hanya ingin memperbaiki jalanku dan kehidupanku.

Maaf, aku tidak gentle dalam menghadapi kenyataan ini. Aku tidak gentle menerima kenyataan kalau kamu tidak menghubungiku. Aku tidak bisa terima kenyataan kalau kamu dingin dan biasa saja terhadapku. Aku tidak bisa gentle menghadapi kenyataan kalau kamu menjauhiku.

Maaf, aku tidak gentle dalam mengambil keputusan. Daripada harus menanti kabarmu berjam-jam hingga seharian penuh, daripada harus menunggu teleponmu hingga berminggu-minggu… aku putuskan, mungkin lebih baik tidak sama sekali… tapi pada kenyataannya aku tidak bisa, tidak bisa tidak dekat denganmu... huft, aku menyacati keputusanku sendiri...

Maaf, jangan tersinggung… Aku bersembunyi di balik tabir yang BELUM bisa kau lihat… suatu saat jika tiba waktunya, silahkan datang mencariku (hah, kok PD ya aku)... aku masih berdiri di titik yang sama saat kau mengambil satu langkah menjauh, aku masih berada di sana… di ruang perasaan, yang sama denganmu…


menemukanmu... tapi bukan kamu



Seingatku, beberapa waktu yang lalu kita masih berhubungan, teman baik...
yah, walaupun tidak sepenuhnya dapat dikatakan sebagai sahabat. Tapi, saat itu merupakan saat-saat yang indah, menurutku. Kita saling menSupport satu sama lain dengan cara masing-masing. 

Seingatku, beberapa saat yang lalu kita masih bertegur sapa, entah hanya sekedar saling melempar senyum atau menepuk pundak masing-masing. Tapi, sesuatu terjadi. dan entah mengapa segalanya menjadi terasa dingin dan biasa saja. Kita saling berpapasan, di perpus, di kantin, di kelas, di jalan... dan kau, berlalu begitu saja ketika aku siap menyapamu dg senyuman.

Seingatku, kita menghabiskan banyak waktu dengan ber-sms, entah itu menanyakan tugas atau sekedar "bertengkar" karena hobby kita yang suka adu nilai. Tapi, entah mengapa saat itu kau membalas, "Ini siapa?" saat aku mengirimimu ucapan selamat ulang tahun... Kamu menghapus kontakku dari ponselmu? Oke, it's fine...

Lebaran kemarin menjadi satu momen dimana aku ingin minta maaf, aku tahu aku punya salah kepadamu, tapi aku tak yakin apa itu, sebab kamu menghilang begitu saja tanpa memberitahuku apa-apa. Tapi lagi-lagi aku mengurungkan niatku untuk menghubungimu. Aku takut... hanya takut, tanpa alasan kuat apa yang membuatku takut untuk menghubungimu duluan. Aku harap, suatu saat nanti kita bisa seperti dulu, temanku...

Refleksi 19 Mei 2011

Malam ini terngiang-ngiang ucapan Joko Laoshi*1 dari kelas Mandarin tadi. Aku memutuskan tetap masuk kelas, meski teman-teman yang lain lebih memilih untuk TA. Padahal sore tadi hujan turun menjadi-jadi. Seingatku sudah beberapa hari ini hujan memang tak turun. Mungkin dia balas dendam,sengaja mengguyur sore dengan derasnya. Menghujani  hari pembukaan MTD, sekaligus hari dimana aku dibuat “mangkel”, lagi-lagi oleh lelaki yang tak pernah lekang dari waktuku. Ah, begitu jahatnya dia yang semena-mena mencurigai, mengklaim dan men-judge bahwa aku berbuat kesalahan lagi; masih suka mengintervensi hak prerogatifnya untuk berteman dengan gadis-gadis selain aku. Hey bung, meski aku tipe pencemburu, aku tahu diri.  Tak akan kuulangi lagi hal serupa yang sempat melibatkan atun, mika, ike, fida… ah, nonsense. Aku nggak mau tahu lagi hubunganmu dengan gadis-gadis lain. Yang penting aku sudah memegang janjimu…

Ya sudahlah, kembali lagi ke topic awal, refleksi yang kuperoleh dari Joko Laoshi. Beliau adalah satu-satunya dosen yang kutakuti. Bukan karena perangainya yang menyeramkan, justru Laoshi-ku yang satu ini adalah orang yang ceria dan humoris; Sanguinis yang sempurna. Lantas apa yang kutakutkan?

Umur Joko Laoshi bisa dibilang sudah sangat tua untuk mengajar, menurutku. Kira-kira di atas delapan puluh tahun. Aku… hanya takut kualat saja jika tidak mendatangi kelasnya. Aku benar-benar ingin menghargai pejuangannya. Dan sore tadi, dengan payung lusuh yang berwarna hitam, Laoshi menggenapkan langkahnya memasuki kelas. “Laoshi, wu an*2” Ucap murid-murid hamper serempak. Kulirik, sepatu dan bagian bawah celananya basah. Tapi nampaknya hal tersebut tidak mengganggunya… senyumnya senantiasa mengembang.

Tak lama, Laoshi memulai kelas. Biasanya, murid yang datang tak lebih dari sepuluh. Tapi merupakan sebuah kebetulan kalau sore tadi murid yang hadir sebanyak sepuluh orang. Rekor selama satu semester ini. Aku mengerti, murid-murid lain mungkin tidak begitu menyukai cara mengajar Laoshi. Yang kolot lah, jadul lah, nggak gaul lah. Ya, mau gimana lagi sih? Laoshi memang seorang kakek yang dituding untuk mengajar di Fakultas yang baru berdiri ini. Sebagai seorang yang tua, pengalaman hidupnya pasti lebih beragam. Dan oleh karena itu, Laoshi lebih sering bercerita tentang masa lalunya, sembari menyisipkan pesan di balik kisah-kisahnya itu. Menurutku, Laoshi lebih tepat disebut sebagai pendidik, daripada disebut sebagai pengajar…

Kali ini Laoshi membuka kelas dengan mengguratkan tulisan hanzhi *3 di whiteboard. Rén shǐ liū míng *4. Entah angin apa yang menerpanya sepanjang perjalanan tadi. “Orang mati meninggalkan nama” hmm… kali ini apa yang akan dibahasnya? Aku melepas earphone yang sedari tadi menggemakan lagu Agnes… how you're gonna get me paralyzed…

“Kalian semua bagaikan mentari pada pukul Sembilan pagi, yang masih segar-menyegarkan, penuh energy. Sementara Laoshi, sudah seperti sekarang ini, seperti matahari di senja yang matang, menjelang malam…” ucap Laoshi. Ah, seketika itu hatiku bergemuruh, beriringan dengan hujan di luar yang semakin riuh.

Waktu tidak akan pernah kembali, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghentikannya barang sejenak pun. Oh ya? Pikirankupun akhirnya tergelitik untuk sekedar mengangan-angankan ucapan Laoshi. Sebenarnya, siapakah yang benar-benar hidup? Manusia atau waktu itu sendiri?

Benarkah manusia yang melintasi waktu? Manusia lahir, tumbuh, dan kemudian mati hingga akhirnya lagi-lagi hanya menyisakan… waktu. Waktu yang tentunya hadir dengan membawa orang-orang baru. Apakah sebenarnya manusia yang mencatatkan diri dalam perjalanan waktu? atau malah sebaliknya, waktu lah yang sebenarnya hidup. Dia mengarungi lorong-lorong yang memuat “bakal manusia” yang kemudian ia “bangunkan” sejenak untuk sekedar “bermain-main” di dunia? Jadi sudah sepantasnya jika manusia tidak dapat kembali ke masa lalu, ataupun bepergian ke masa depan, karena sebenarnya yang senantiasa hidup adalah waktu… dan manusia, tetap di tempatnya, tertinggalkan.

Mungkin karena alasan itu pula lah, orang-orang sering berkata, “biarlah waktu yang menjawabnya”. Ya, aku rasa ada benarnya juga. Kita tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi di masa sebelum kita ada, ataupun masa setelah kita. Yang senantiasa tahu adalah waktu itu sendiri. Kita “hidup” karena menggoreskan tinta-tinta kehidupan kita pada waktu yang melintasi kita. Bila goresan itu indah, tegas, dan bermakna, ada kemungkinan goresan kisah hidup kita akan senantiasa terbawa oleh sang waktu, memperkenalkan kita sebagai “pahlawan yang berjasa” atau sekedar “nenek moyangyang perlu dikenang”  kepada generasi setelah kita. Lantas, apa jadinya jika yang kita goreskan adalah hal yang biasa-biasa saja? Apakah hal-hal sepele itu mampu tahan oleh kikisan waktu….?

Ah, tanpa kusadari Laoshi sudah berdiri di hadapanku.Seketika itu, Angan-anganku berserakan begitu saja.
Ni tong le ma? *5” Tanya Laoshi.
“Engh… Wo bu tong le, Laoshi *i6” jawabku sambil nyengir. Malu.

Eh, si Laoshi balik menimpaliku dengan senyuman yang mengguratkan garis-garis usia di sekitar pipinya. Matanya yang sipit semakin menghilang seiring melebarnya senyuman. Kuamati sekeliling, rupanya murid-murid lain sudah berkemas.

Zai jian, Laoshi…*7” ucap mereka berbondong-bondong sembari meninggalkan kelas. Ah, aku ditinggalkan begitu saja. Dengan tergopoh-gopoh aku membereskan bangkuku. Menggapai semuanya dan kumasukkan paksa ke dalam tasku.
Xie xie, Laoshi, zai jian…*8” ucapku sembari melangkah menuju pintu keluar.

Zai jian… rén shǐ liū míng, *9” tambahnya sembari tersenyum, melepasku pergi. Ah, senyuman itu, entah mengapa memberiku sedikit perasaan tidak enak. Ingin rasanya berbalik arah, ingin rasanya benar-benar mengucapkan xie xie atas apa yang telah diberikannya selama ini. Namun adzan maghrib telah berkumandang, aku harus bergegas, menemui kekasih yang memberiku kehidupan…

***


1.      Guru
2.      Selamat sore, Pak.
3.      Huruf kanji China
4.      Orang mati meninggalkan nama
5.      “Apa kamu sudah mengerti?”
6.      “Saya belum mengerti, Pak.”
7.      “Sampai jumpa, Pak.”
8.      “Terima kasih, Pak, sampai jumpa.”
9.      “Sampai jumpa… Orang mati meninggalkan nama”

Cerita Tentang Angin part II

Apa mau dikata, Dia adalah angin yang cerdik. Aku sama sekali tak mengetahui arah mana yang selanjutnya akan dia lalui. Tak perduli seberapa kencang aku berlari mengikuti jejaknya, tak perduli seberapa sabar aku meniti jalan yang disisakannya, dia tetaplah angin yang tak dapat kupahami meski  telah lama aku mengenalnya. Dia tetaplah angin yang tak ingin diusik…

Ya, Percuma saja, Dia tetaplah angin yang bebas, datang dan pergi sesuka hatinya. Tak perduli sekuat apa aku menariknya untuk datang padaku, tak perduli seberapa besar usahaku untuk menahannya agar tak pergi… dia tetaplah angin yang tak pernah dapat kusentuh meski dapat kurasakan keberadaannya. Dia tetaplah angin yang merindu kebebasan, di sana…

Ah, lihatlah. Betapa bodohnya diriku meluapkan semua kata-kata itu. Terlalu jujur dalam mengungkapkan perasaan hanya akan membuat kita lemah di mata orang lain.

Angin, oh angin, hal apa yang paling kau suka selain membuatku galau….


Cerita Tentang Angin



mungkin dia adalah angin,
ya...tak salah lagi,
dia adalah angin, kurasa

telah lama aku habiskan waktu bersamanya,
aku tahu segala hal tentangnya,
lebih dari apa yang dia dan mereka tahu.

dia selalu bebas,
jiwanya tak terbatas,
tak terbelenggu oleh apapun.

dia tak pernah ingin terlihat,
namun dia selalu mampu membuat orang lain
merasakan kehadirannya...

dia begitu mengasyikkan,
diterbangkannya layang-layang warna-warni,
dikibarkannya kain merah putih di tiang itu...

dia begitu hidup,
dibawakannya ceritera dari negeri seberang,
indah, senyum, dan kebahagiaan...

tak ada yang mampu menebak arahnya,
begitu pula aku,
dia tetap datang dan pergi begitu saja...

aku adalah awan,
yang bergerak karena angin,
yang hanya berpindah tempat karenanya...

aku hanyalah awan,
yang hanya bisa menunggu,
bukan mendatanginya...

aku hanyalah awan,
yang tak lengkap tanpanya...

Sudahkah kau temukan?

Dan, seperti malam yang sudah-sudah, aku tidak bisa tidur lagi. Ya, lagi-lagi insomnia datang tanpa permisi, membuatku harus menghabiskan sepanjang malam bersama beberapa cangkir moccacino kesukaanku untuk kesekian kalinya. Pikiranku tak tentu arah, menerawang menembus dunia mana saja yang pernah kusinggahi. Tempat-tempat itu, setiap ruas jalan yang pernah kulintasi, gedung-gedung tempat kumencari ilmu dunia, kediaman ku yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain... Semua kenangan itu terproyeksikan begitu saja malam ini. Dan aku sama sekali tak berniat untuk mengalihkan pikiranku kepada hal lainnya sebab aku... menikmati kenangan-kenangan itu...

Rasa benci itu muncul lagi. Kebencian yang telah beberapa kali kupendam, kini datang lagi. Dia merasuk ke degup jantung dan mengalir bersama setiap tetes darah dalam nadiku. Ah, bodoh! Benar-benar bodoh dan tidak berguna. Aku bosan dengan kehidupan ini. Benar-benar stagnan, dan, dari dulu hidupku ya begini-begini saja. Aku jenuh! Jengah dengan diriku sendiri yang, ah, yang... stabil, bahkan sama sekali tidak menunjukkan suatu perubahan yang cukup membuatku bergairah lagi untuk bangun esok hari dan HIDUP! HIDUP yang benar-benar HIDUP, bukan hanya sekedar membuka mata di pagi hari, lalu dilanjutkan dengan melakukan sederetan aktivitas hingga malam hari, berlanjut keesokannya lagi dan mengulangi segala hal yang tidak benar-benar memberikan arti pada keHIDUPanku dan pada diriku sendiri. Aku tidak mau lagi...

Keesokan harinya, aku masih kembali HIDUP. Pagi ini terasa sunyi dan hampa. Aku tidak berhasrat untuk melakukan apa pun hari ini. Aku masih berbaring di atas ranjang dengan mata terbuka. Segala hal yang tergambar semalam masih membekas. Segalanya sangat jelas, begitu jelas.

Aku bangkit dari kasur, mengambil jaket dan kunci motor. Angin pagi menerpa kerudungku, membelai wajahku dengan lembut. Aku masih tidak tahu pasti kemana aku akan pergi. Aku hanya ingin keluar, hanya keluar sebentar, meskipun tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini.

Lima ratus meter dari arah kos-an, aku berhenti sebab lampu lalu lintas menyalakan tanda merahnya. Hari masih pagi, sangat pagi, namun beberapa pengamen jalanan sudah siap dengan misinya masing-masing. Kuamati, mereka semua masih kecil-kecil. Mungkin masih seumuran anak SD. Tapi mereka di sini, menyanyikan lagu yang bukan untuk seusia mereka. Mereka menabuh gendang yang dibuat ala kadarnya. Namun tidak dimainkan sekenanya. Mereka benar-benar serius saat menyanyikan lagu "hamil duluan" yang liriknya terpotong oleh klakson mobil di belakangku yang dipencet berulang-ulang, menyuruhku bergegas menancap gas. Ah, anak-anak pengamen... Mereka berlarian kembali ke tepi jalan.

Pikiranku rupanya masih memikirkan anak-anak kecil tadi. Dengan menjadi pengamen di lampu merah, berapa yang dapat mereka peroleh? Bagaimana mereka makan? Untuk sekolah? Orang tua mereka seperti apa?... Dan dalam kesibukan pikiranku, motor yang kutumpangi tiba-tiba oleng dan membuatku hampir terjatuh. SIAL! Ban bocor! Sepagi ini? Arrghhh.

Saat aku mencoba melihat keadaan ban motorku, aku mendengar suara anak-anak berkelakar dan tertawa girang. Penasaran, aku bangkit dari jongkokku dan celingukan. Rupanya riang tawa itu berasal dari anak-anak pengamen yang kutemui barusan di perempatan lampu merah.Kelima anak itu saling berebut untuk makan dari sebuah nasi bungkus yang sama. Tapi mereka terlihat begitu bahagia. Sama sekali tak kulihat sedikitpun wajah murung, lelah, bosan, apalagi kemarahan karena harus berebut satu sama lain. Mereka menikmati keHIDUPan mereka, ya, mereka sangat-sangat menerima keadaan mereka yang apa adanya dengan tawa dan senyuman. 

Aku iri dengan mereka. Mengapa mereka bisa lebih realistis dalam menyikapi HIDUP dibanding denganku? Padahal kenyataannya mereka tidak sekolah sepertiku yang hingga sekarang kuliah. Mungkin mereka belum pernah merasakan makanan yang setiap harinya kumakan. Mungkin mereka tidak memiliki orang tua seperti orang tua yang kumiliki, yang menyayangiku dan membiayai HIDUPku hingga detik ini... Aku terduduk lemas, sudah tak dapat kutahan... air mengalir di pipiku. 


Minggu, 23 Oktober 2011

Kembali Belajar Berjalan


"Ayah... di sini sakit, ini juga... sakit... semuanya sakit!" Aku terus merintih kesakitan, membuat Ayah menjadi bertambah tidak tega melihatku. Namun aku tahu, di dalam hati Ayah ingin memarahiku atas ulahku yang mengendarai motor ugal-ugalan dan sak karepe dewe hingga membuatku menderita luka-luka seperti saat ini.  Namun sepanjang perjalanan pulang, Ayah hanya diam -Ayah selalu saja diam-, dan aku yang dibonceng, terus menangis sembari bersandar di punggung Ayah. 

Genap satu minggu aku terbaring di ranjang. Kulaih? Well, jangan tanyakan kuliah ataupun segala aktivitas lainnya. Semuanya kutinggalkan... Dan segalanya begitu terasa berarti ketika aku tidak bisa melakukannya. Mungkin aku kurang bersyukur, iya, aku kurang bersyukur atas apa-apa yang telah kudapatkan dalam hidup ini. Jadi, mungkin ini cobaan, ujian... ya semacam itulah yang diturunkan kepadaku. Aduh, ampun Gusti Pengeran... Hamba banyak lalai... {pengen nangis, lagi}

Dengan kejadian ini... aku belajar banyak, sangat banyak. {Alhamdulillah yah...} Seperti Kembali Belajar Berjalan. Dan satu hal yang cukup kusesalkan sekaligus kusyukuri adalah segala perhatian dan kasih sayang yang terus mengalir dari Ayah dan Ibu... Ayah dan Ibu... Kenapa aku selalu merepotkan mereka? Selalu membuat mereka susah, huft. Aku menyesal, prihatin melihat diri sendiri yang belum mampu membalas jasa-jasa mereka... aku masih saja membutuhkan mereka. Ayah yang selalu mendengarkan kekesalan dan gerutuku tanpa pernah sekali pun memarahiku. Ayah yang dengan sabar menuruti semua keinginanku, meski terkadang itu terlalu kekanak-kanakan. Iya, aku masih selalu kekanak-kanakan... Ibuku yang selama satu minggu ini {dan semenjak kecil dulu} memandikanku dan menyuapiku tiga kali sehari. Tak ketinggalan olehnya memijat-mijat tangan dan kakiku yang lebam karena kecelakaan motor, mendoakanku agar segera diberi kesembuhan oleh Sang Maha Kuasa... Ya Robb... Aku sangat menyayangi mereka, sayangi dan lindungilah mereka selalu.... {gak kuat nahan nangis}

Genap satu minggu setelah "lumpuh" dari segala aktivitas, aku Kembali Belajar Berjalan. Iya, benar-benar belajar berjalan di atas kedua kakiku... dan ini adalah hal yang sulit. Aku... belum bisa. Dan adikku yg beda 1,5 tahun dariku mengataiku "Jalanmu seperti nenek2". Aduh, nenek-nenek pun lebih lihai berjalan daripada aku. {Eits. Gak boleh menyerah!} Dan di luar hal-hal fisik tersebut, aku pun Kembali Belajar Berjalan. Kembali belajar menata diri, menata kehidupan meski setapak demi setapak, selangkah demi selangkah... perlahan tapi pasti mungkin prinsipku saat ini. Aku boleh berjalan terbata-bata sekarang, tapi aku yakin suatu saat aku pun dapat berlari kencang, menembus angin dan meraih segalanya! {Get motivated MODE: ON} 

Semoga Alloh SWT selalu membimbing diri yang lemah ini, amin...
Bismillah!

Sabtu, 22 Oktober 2011

1st time, is it like a 1st kiss? lol

Well, actually... Aku gak tau pasti gimana aku harus memulai entry pertama blogku ini. Intinya sih, aku cuma berharap semoga kamar maya ini bisa menjadi tempat aku bercuap-cuap bebas dan dapat menjadikan diriku apa adanya, ketika di luar sana penuh dengan hiruk pikuk yang aku sendiri tidak terlalu mengerti alias memang gak mau tahu :P

Jadi, entry pertama apakah sama rasanya dengan ciuman pertama? hahaha, sebenernya pengen ketawa sendiri. Kenapa aku tiba-tiba mencomot judul itu? Aku sendiri tidak tahu menahu tentang first kiss >_< :P Ya, sudahlah... Kapan-kapan lagi ya dilanjutin, semoga tetap semangat nulis dan bercuap-cuap... hanya aku dan segelas moccacino-ku, get addicted! ^^