Malam ini terngiang-ngiang ucapan Joko Laoshi*1 dari kelas Mandarin tadi. Aku memutuskan tetap masuk kelas, meski teman-teman yang lain lebih memilih untuk TA. Padahal sore tadi hujan turun menjadi-jadi. Seingatku sudah beberapa hari ini hujan memang tak turun. Mungkin dia balas dendam,sengaja mengguyur sore dengan derasnya. Menghujani hari pembukaan MTD, sekaligus hari dimana aku dibuat “mangkel”, lagi-lagi oleh lelaki yang tak pernah lekang dari waktuku. Ah, begitu jahatnya dia yang semena-mena mencurigai, mengklaim dan men-judge bahwa aku berbuat kesalahan lagi; masih suka mengintervensi hak prerogatifnya untuk berteman dengan gadis-gadis selain aku. Hey bung, meski aku tipe pencemburu, aku tahu diri. Tak akan kuulangi lagi hal serupa yang sempat melibatkan atun, mika, ike, fida… ah, nonsense. Aku nggak mau tahu lagi hubunganmu dengan gadis-gadis lain. Yang penting aku sudah memegang janjimu…
Ya sudahlah, kembali lagi ke topic awal, refleksi yang kuperoleh dari Joko Laoshi. Beliau adalah satu-satunya dosen yang kutakuti. Bukan karena perangainya yang menyeramkan, justru Laoshi-ku yang satu ini adalah orang yang ceria dan humoris; Sanguinis yang sempurna. Lantas apa yang kutakutkan?
Umur Joko Laoshi bisa dibilang sudah sangat tua untuk mengajar, menurutku. Kira-kira di atas delapan puluh tahun. Aku… hanya takut kualat saja jika tidak mendatangi kelasnya. Aku benar-benar ingin menghargai pejuangannya. Dan sore tadi, dengan payung lusuh yang berwarna hitam, Laoshi menggenapkan langkahnya memasuki kelas. “Laoshi, wu an*2” Ucap murid-murid hamper serempak. Kulirik, sepatu dan bagian bawah celananya basah. Tapi nampaknya hal tersebut tidak mengganggunya… senyumnya senantiasa mengembang.
Tak lama, Laoshi memulai kelas. Biasanya, murid yang datang tak lebih dari sepuluh. Tapi merupakan sebuah kebetulan kalau sore tadi murid yang hadir sebanyak sepuluh orang. Rekor selama satu semester ini. Aku mengerti, murid-murid lain mungkin tidak begitu menyukai cara mengajar Laoshi. Yang kolot lah, jadul lah, nggak gaul lah. Ya, mau gimana lagi sih? Laoshi memang seorang kakek yang dituding untuk mengajar di Fakultas yang baru berdiri ini. Sebagai seorang yang tua, pengalaman hidupnya pasti lebih beragam. Dan oleh karena itu, Laoshi lebih sering bercerita tentang masa lalunya, sembari menyisipkan pesan di balik kisah-kisahnya itu. Menurutku, Laoshi lebih tepat disebut sebagai pendidik, daripada disebut sebagai pengajar…
Kali ini Laoshi membuka kelas dengan mengguratkan tulisan hanzhi *3 di whiteboard. Rén shǐ liū míng *4. Entah angin apa yang menerpanya sepanjang perjalanan tadi. “Orang mati meninggalkan nama” hmm… kali ini apa yang akan dibahasnya? Aku melepas earphone yang sedari tadi menggemakan lagu Agnes… how you're gonna get me paralyzed…
“Kalian semua bagaikan mentari pada pukul Sembilan pagi, yang masih segar-menyegarkan, penuh energy. Sementara Laoshi, sudah seperti sekarang ini, seperti matahari di senja yang matang, menjelang malam…” ucap Laoshi. Ah, seketika itu hatiku bergemuruh, beriringan dengan hujan di luar yang semakin riuh.
Waktu tidak akan pernah kembali, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghentikannya barang sejenak pun. Oh ya? Pikirankupun akhirnya tergelitik untuk sekedar mengangan-angankan ucapan Laoshi. Sebenarnya, siapakah yang benar-benar hidup? Manusia atau waktu itu sendiri?
Benarkah manusia yang melintasi waktu? Manusia lahir, tumbuh, dan kemudian mati hingga akhirnya lagi-lagi hanya menyisakan… waktu. Waktu yang tentunya hadir dengan membawa orang-orang baru. Apakah sebenarnya manusia yang mencatatkan diri dalam perjalanan waktu? atau malah sebaliknya, waktu lah yang sebenarnya hidup. Dia mengarungi lorong-lorong yang memuat “bakal manusia” yang kemudian ia “bangunkan” sejenak untuk sekedar “bermain-main” di dunia? Jadi sudah sepantasnya jika manusia tidak dapat kembali ke masa lalu, ataupun bepergian ke masa depan, karena sebenarnya yang senantiasa hidup adalah waktu… dan manusia, tetap di tempatnya, tertinggalkan.
Mungkin karena alasan itu pula lah, orang-orang sering berkata, “biarlah waktu yang menjawabnya”. Ya, aku rasa ada benarnya juga. Kita tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi di masa sebelum kita ada, ataupun masa setelah kita. Yang senantiasa tahu adalah waktu itu sendiri. Kita “hidup” karena menggoreskan tinta-tinta kehidupan kita pada waktu yang melintasi kita. Bila goresan itu indah, tegas, dan bermakna, ada kemungkinan goresan kisah hidup kita akan senantiasa terbawa oleh sang waktu, memperkenalkan kita sebagai “pahlawan yang berjasa” atau sekedar “nenek moyangyang perlu dikenang” kepada generasi setelah kita. Lantas, apa jadinya jika yang kita goreskan adalah hal yang biasa-biasa saja? Apakah hal-hal sepele itu mampu tahan oleh kikisan waktu….?
Ah, tanpa kusadari Laoshi sudah berdiri di hadapanku.Seketika itu, Angan-anganku berserakan begitu saja.
“Ni tong le ma? *5” Tanya Laoshi.
“Engh… Wo bu tong le, Laoshi *i6” jawabku sambil nyengir. Malu.
Eh, si Laoshi balik menimpaliku dengan senyuman yang mengguratkan garis-garis usia di sekitar pipinya. Matanya yang sipit semakin menghilang seiring melebarnya senyuman. Kuamati sekeliling, rupanya murid-murid lain sudah berkemas.
“Zai jian, Laoshi…*7” ucap mereka berbondong-bondong sembari meninggalkan kelas. Ah, aku ditinggalkan begitu saja. Dengan tergopoh-gopoh aku membereskan bangkuku. Menggapai semuanya dan kumasukkan paksa ke dalam tasku.
“Xie xie, Laoshi, zai jian…*8” ucapku sembari melangkah menuju pintu keluar.
“Zai jian… rén shǐ liū míng, *9” tambahnya sembari tersenyum, melepasku pergi. Ah, senyuman itu, entah mengapa memberiku sedikit perasaan tidak enak. Ingin rasanya berbalik arah, ingin rasanya benar-benar mengucapkan xie xie atas apa yang telah diberikannya selama ini. Namun adzan maghrib telah berkumandang, aku harus bergegas, menemui kekasih yang memberiku kehidupan…
***
1. Guru
2. Selamat sore, Pak.
3. Huruf kanji China
4. Orang mati meninggalkan nama
5. “Apa kamu sudah mengerti?”
6. “Saya belum mengerti, Pak.”
7. “Sampai jumpa, Pak.”
8. “Terima kasih, Pak, sampai jumpa.”
9. “Sampai jumpa… Orang mati meninggalkan nama”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar