Untuk yang terakhir kalinya, sebelum aku beranjak pulang, kulihat sosoknya berdiri di balik kaca jendela. Gadis belia itu nampak galau dan letih. Hati dan fikirannya disibukkan dengan perkara masa depan yang akan diputuskan oleh ketukan palu pada sidang yang akan digelar dua hari itu. Segala aspek kehidupannya akan berubah, dimulai dari 31 Mei 2011…
***
Tak banyak hal yang dapat kuceritakan darinya. Yang aku tahu, dia berasal dari Sorong. Tak jauh beda dengan perawakan orang Indonesia pada umumnya, dia berkulit sawo matang, berambut ikal dan berbola mata cokelat. Sifatnya yang pemalu, bahkan terkesan tidak percaya diri itu agak sedikit kusayangkan. Dan selebihnya, aku tidak begitu tahu. Betapa tidak, aku baru mengenalnya sejak seminggu yang lalu ketika aku ditodong untuk menjadi guru lesnya. Dan semenjak tujuh hari yang lalu itu, setiap selepas sholat Maghrib aku bertandang ke rumahnya dengan membawa kumpulan soal persiapan SNMPTN.
“Mbak, saya minta tolong mbak untuk mendampingi Fanda belajar. Kasihan dia, dulu waktu SMA di Sorong, pelajaran yang didapat tidak sebanding dengan anak-anak yang sekolah di Jawa. Umpama dalam matematika ada sepuluh rumus, di sana dia cuma diberi empat rumus saja. Mohon bimbingannya ya, mbak….” Ucap Bu Kamila saat pertama aku mendatangi rumahnya dengan diantar mas Rozi, pemilik bimbel “kejar cita”.
Sekerjap rasa kagum singgah ketika mendengarkan Bu Kamila berbicara ini-itu seputar pendidikan. Meski usia telah mengantarkannya pada fase “rambut berubah warna tanpa dicat”, namun pengetahuan Beliau terhadap pendidikan begitu up to date. Beliau begitu prihatin ketika setiap tahun ajaran baru, institusi-institusi bernamakan SEKOLAH, dengan lihainya memainkan janji-janji berasaskan PENDIDIKAN, plus embel-embel HIDUP AKAN JADI LEBIH BAIK DENGAN IJASAH.
Ya sudahlah, apa mau dikata. Ya begini ini hidup di Indonesia, mau diapakan lagi. Banyak perbincangan tentang hal itu pun tak akan merubah apa-apa. Aku lebih tertarik menceritakan secuil kehidupan Fanda yang kebetulan kuketahui …
“Mbak, kenapa saya punya otak sulit sekali berfikir tentang bahasa Inggris? Mbak punya solusi kasih lah ke saya,” ucap Fanda di suatu petang, khas dengan logat Sorongnya.
Seketika itu, kualihkan pandanganku pada kedua bola matanya yang bulat dan cokelat. “Bukan sulit berfikir, tapi memang belum kenal mendalam…” Dia hanya manggut-manggut lalu kembali mencermati soal TRUE-FALSE di halaman kedua.
Di hari-hari berikutnya, entah mengapa terbersit rasa takut. Ketakutan akan kegagalan. Ketakutan akan ketidakmampuan menerima kenyataan yang bertentangan dengan apa yang diimpikan. Sempat bermunculan rasa ragu itu, mampukah Fanda melewati tes ini mengingat pengetahuannya jika dibandingkan dengan siswa-siswi Jawa lainnya masih… ah, jahatnya aku berfikiran demikian.
“Mbak, saya mau tanya bolehkah?” di hari berikutnya Fanda nampak lebih rileks dan tidak terlalu malu-malu lagi padaku. “
"Yes, of course. What is it about?”
“Kata saya punya guru les matematika, tak baik berfikiran panjang.”
“Maksudnya?”
“tadi pagi saya tanya ke saya punya guru les matematika seperti ini: anak UB wisudanya dimana? Dia bilang saya terlalu berfikiran panjang. Dia kata tak baik, betul kah itu mbak?”
“ya…ada betulnya juga, takutnya kan kalau hal seperti itu bisa jadiin kita panjang angan-angan, jadi nggak serius ngapa-ngapain, kerjanya berangan-angan terus.”
“tapi kata saya punya guru les matematika tidak seperti itu mbak. Dia bilang saya terlalu banyak bermimpi. Itu tidak baik. Kalau satu mimpi itu gagal, mimpi-mimpi yang lain jadi ikut gagal. Hancur, rusak semua, jadi jangan terlalu jauh bermimpi,”
Aku berfikir sejenak, meraba hati yang selama ini kujadikan patokan, mendengarkan apa yang diucapkan Fanda yang notabene adalah ucapan guru les matematikanya. Ingin sekali rasanya bertatap wajah dengannya,lalu mentransfer isi otak secara instan mengenai konsep “mimpi dan impian” agar tak perlu kucari kata untuk memberikannya sebuah pengertian yang kongkrit.
Aku tersenyum kecut, terasa diejek. Bagi anak pedagang kecil sepertiku, bermimpi adalah satu-satunya hal yang membuatku senantiasa hidup. Meski tak semua orang percaya akan kekuatan dari memiliki sebuah mimpi… aku tetap mengumpulkan satu-persatu impian itu, menjadikannya pilar-pilar yang akan membangun kekuatan mimpi hingga menjadi kokoh. Akan kutancapkan erat dalam diriku. Namun, yah… pada kenyataannya, hal tersebut justru sukses membuat beberapa orang mencibir dan merendahkanku karena yang kumiliki hanya mimpi, bukan materi…
“Mbak kenapa diam saja? Saya punya pertanyaan sulit kah mbak jawab?
“Nope. There is nothing difficult in this world, honey… sudahlah, jangan terlalu difikirkan kata-kata guru les matematikamu itu… yang terpenting sekarang adalah berusaha, belajar sungguh-sungguh, dan kamu harus yakin kalau kamu pasti lolos, pasti, yakin, pasti lolos!” ucapku yang tanpa kusadari begitu berapi-api.
Entah benar atau salahkan tindakanku yang terlalu keras menanamkan impian-impian itu dalam benak Fanda. Entah apa yang ditafsirkannya dari perkataanku tadi, dia hanya memelukku erat, erat sekali tanpa berkata sepatah katapun.
Itulah hari terakhir aku membantunya mempersiapkan diri menjelang SNMPTN. Semoga besok kau diberi kemudahan dan kelancaran, doaku menyertaimu, dik…
***
Dan untuk yang terakhir kalinya, sebelum aku beranjak pulang, kulihat sosoknya berdiri di balik kaca jendela. Gadis belia itu nampak galau dan letih. Hati dan fikirannya disibukkan dengan perkara masa depan yang akan diputuskan oleh ketukan palu pada sidang yang akan digelar dua hari itu.
Jangan kecil hati, tiada yang mustahil di dunia ini. Mungkin hidup berawal dari mimpi…, kalau seperti itu, maka berjuanglah, melesatlah bagai anak-anak panah yang terlontar dari busurnya, membelah angin, menembus impian, jadikan nyata… La tahzan adikku, Innalloha ma’ana…
* untuk Agista Fanda, Freni, adik-adikku yang lainnya, yang tersebar di seluruh jagat, berlomba-lomba meraih asa esok hari...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar