Sabtu, 29 Oktober 2011

Sudahkah kau temukan?

Dan, seperti malam yang sudah-sudah, aku tidak bisa tidur lagi. Ya, lagi-lagi insomnia datang tanpa permisi, membuatku harus menghabiskan sepanjang malam bersama beberapa cangkir moccacino kesukaanku untuk kesekian kalinya. Pikiranku tak tentu arah, menerawang menembus dunia mana saja yang pernah kusinggahi. Tempat-tempat itu, setiap ruas jalan yang pernah kulintasi, gedung-gedung tempat kumencari ilmu dunia, kediaman ku yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain... Semua kenangan itu terproyeksikan begitu saja malam ini. Dan aku sama sekali tak berniat untuk mengalihkan pikiranku kepada hal lainnya sebab aku... menikmati kenangan-kenangan itu...

Rasa benci itu muncul lagi. Kebencian yang telah beberapa kali kupendam, kini datang lagi. Dia merasuk ke degup jantung dan mengalir bersama setiap tetes darah dalam nadiku. Ah, bodoh! Benar-benar bodoh dan tidak berguna. Aku bosan dengan kehidupan ini. Benar-benar stagnan, dan, dari dulu hidupku ya begini-begini saja. Aku jenuh! Jengah dengan diriku sendiri yang, ah, yang... stabil, bahkan sama sekali tidak menunjukkan suatu perubahan yang cukup membuatku bergairah lagi untuk bangun esok hari dan HIDUP! HIDUP yang benar-benar HIDUP, bukan hanya sekedar membuka mata di pagi hari, lalu dilanjutkan dengan melakukan sederetan aktivitas hingga malam hari, berlanjut keesokannya lagi dan mengulangi segala hal yang tidak benar-benar memberikan arti pada keHIDUPanku dan pada diriku sendiri. Aku tidak mau lagi...

Keesokan harinya, aku masih kembali HIDUP. Pagi ini terasa sunyi dan hampa. Aku tidak berhasrat untuk melakukan apa pun hari ini. Aku masih berbaring di atas ranjang dengan mata terbuka. Segala hal yang tergambar semalam masih membekas. Segalanya sangat jelas, begitu jelas.

Aku bangkit dari kasur, mengambil jaket dan kunci motor. Angin pagi menerpa kerudungku, membelai wajahku dengan lembut. Aku masih tidak tahu pasti kemana aku akan pergi. Aku hanya ingin keluar, hanya keluar sebentar, meskipun tidak tahu apa yang akan aku lakukan setelah ini.

Lima ratus meter dari arah kos-an, aku berhenti sebab lampu lalu lintas menyalakan tanda merahnya. Hari masih pagi, sangat pagi, namun beberapa pengamen jalanan sudah siap dengan misinya masing-masing. Kuamati, mereka semua masih kecil-kecil. Mungkin masih seumuran anak SD. Tapi mereka di sini, menyanyikan lagu yang bukan untuk seusia mereka. Mereka menabuh gendang yang dibuat ala kadarnya. Namun tidak dimainkan sekenanya. Mereka benar-benar serius saat menyanyikan lagu "hamil duluan" yang liriknya terpotong oleh klakson mobil di belakangku yang dipencet berulang-ulang, menyuruhku bergegas menancap gas. Ah, anak-anak pengamen... Mereka berlarian kembali ke tepi jalan.

Pikiranku rupanya masih memikirkan anak-anak kecil tadi. Dengan menjadi pengamen di lampu merah, berapa yang dapat mereka peroleh? Bagaimana mereka makan? Untuk sekolah? Orang tua mereka seperti apa?... Dan dalam kesibukan pikiranku, motor yang kutumpangi tiba-tiba oleng dan membuatku hampir terjatuh. SIAL! Ban bocor! Sepagi ini? Arrghhh.

Saat aku mencoba melihat keadaan ban motorku, aku mendengar suara anak-anak berkelakar dan tertawa girang. Penasaran, aku bangkit dari jongkokku dan celingukan. Rupanya riang tawa itu berasal dari anak-anak pengamen yang kutemui barusan di perempatan lampu merah.Kelima anak itu saling berebut untuk makan dari sebuah nasi bungkus yang sama. Tapi mereka terlihat begitu bahagia. Sama sekali tak kulihat sedikitpun wajah murung, lelah, bosan, apalagi kemarahan karena harus berebut satu sama lain. Mereka menikmati keHIDUPan mereka, ya, mereka sangat-sangat menerima keadaan mereka yang apa adanya dengan tawa dan senyuman. 

Aku iri dengan mereka. Mengapa mereka bisa lebih realistis dalam menyikapi HIDUP dibanding denganku? Padahal kenyataannya mereka tidak sekolah sepertiku yang hingga sekarang kuliah. Mungkin mereka belum pernah merasakan makanan yang setiap harinya kumakan. Mungkin mereka tidak memiliki orang tua seperti orang tua yang kumiliki, yang menyayangiku dan membiayai HIDUPku hingga detik ini... Aku terduduk lemas, sudah tak dapat kutahan... air mengalir di pipiku. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar