Kamis, 30 Agustus 2012

Kopi hitam dan babak baru


Hari ini tanggal 30 Agustus 2012 ya? Baiklah, haruskah aku mengukir tanggal itu? Membuatkan prasasti sebagai bukti bahwa hari ini saya pada akhirnya menggenapkan hati untuk benar-benar memulai babak baru dalam hidup saya? Kalau begitu, tentunya orang tersebut sangatlah istimewa. Tapi… mmmh, sebenarnya nggak juga sih. Saya hanya… hari ini… mmmh, bahagia. Itu saja :)

Dan kisah ini berawal dari dua pasang gelas berisi kopi, kali ini kopi hitam, yang ternyata cukup membuat perut saya perih ketika sampai rumah. Tapi tak apalah, hal itu bukan menjadi fokus utama dari cerita saya kali ini.

Entahlah, saya merasa kali ini saya benar-benar berbeda. Paling tidak, menjadi sedikit lebih berbeda dengan tidak melakukan kebiasaan lama saya. Sebut saja, saya lebih memilih untuk menenggak kopi hitam malam ini. Padahal... aduh, seumur-umur kalau ngopi ya kalau nggak moccacino ya cappucino. Ini nih, entah apa ya... saya merasa ada sesuatu yang berbeda saja. Semoga pertanda baik :)

Banyak hal yang dituturkan pria yang duduk di ujung meja sebelah kiriku. Sementara aku terkadang hanya tersenyum, dan ya... agak malu sebenarnya. Plus, bercampur rasa takut dan dag-dig-dug tidak karuan. Ini pertama kalinya seorang pria berkata serius. Bukan mengajak pacaran, tapi to the point "Will you marry me?" Oh God, if only I can freeze the time, I would be happy to disappear and get home as quick as possible. I prefer deny that question than answering it directly in front of the man who kept watching my eyes as if there was something attractive to see. 

Dan serbuk kopi hitam yang melebur dalam seduhan air panas perlahan menjangkiti tubuhku. Mendobrak sel-sel lama yang kian usang. Menarik kembali diriku yang sempat hilang dari kehidupan, back to life and have a new stage of life to live in. If it is your plan, I trust on You to make me the rest of the story, God... Saya telah membuat keputusan, dan tentunya itu semua juga tak lepas dari kendali dan kuasaMu, Rabb... Jadi, saya pasrahkan segalanya kepadaMu :))

Bismillahirrahmanirrahiim… dengan ini saya berharap ke depannya. saya mampu menjadi lebih baik lagi. Bantu hamba Ya Rabb, berikanlah yang terbaik untuk hamba. Atau lebih tepatnya, berikanlah segala sesuatu yang memang pantas Engkau berikan bagi hambaMu yang dloif ini, Ya ‘Azza wa Jalla… Hamba tidak menuntut, saya hanya meminta, memohon kepadaMu, Engkau yang Maha Memiliki segala yang ada di dunia ini. Sedangkan hamba hanya insan yang papa, wajarlah jika hamba terus mendengungkan kidung doa dan harapan hanya kepadaMu. Aku tahu, Engkau Maha Pendengar dan Maha Mengabulkan segala permintaan hambaMu Ya Rabb…
Mudahkanlah jalanku.
Kuatkanlah hatiku.
Ringkaskanlah urusanku…
Genapkanlah keyakinanku…

I LOVE YOU MORE, YA RABB :))



Sabtu, 11 Februari 2012

Arti Tanah Ini (final part: kebebasanku, never ending story)

Entah mengapa langit Makassar sejak pagi tadi murung. Mungkin dia tahu hari ini aku akan kembali ke tanah Jawa membawa seberkas kisah yg tidak akan terlupakan. Kalau ada yg bertanya kepadaku bagaimana yg aku rasakan saat ini, mungkin aku akan bingung menjawabnya. Sebab aku merasa tidak ada kata-kata yang mampu mewakili betapa indahnya, betapa terpesona dan terpukaunya diriku setelah tinggal selama 8 hari di sini. Ah, I always love you Makassar... 

Detik ini aku tengah menunggu pesawat yang akan mengantarku pulang. Di luar hujan... Ah, suasana jadi mengharukan, apalagi saat berpamitan dengan teman2 tadi. Aku sangat tersentuh, guys... Tapi aku tidak menangis kok. Aku kan cewek yg tegar :D makasih udah mengantarku, makasih buat segalanya yg kalian beri selama 8 hari ini. Tidak ada satu pun yg patut aku sesali, bahkan aku sangat bersyukur karena dipertemukan dengan kalian semua... I would never forget all of you, guys... Kalian akan selalu ada di sini, tersimpan di istana terindah di dalam hatiku :) 






Anganku jadi melesat kembali ke hari dimana aku mengunjungi Tanjung Bira bersama orang2 yang sangat amazing... Pantai yg sangat indah. Tidak salah jika orang2 menyebutnya sebagai "Balinya Makassar". Namun bukan hanya sekedar pasir putih, air laut yang jernih, ombak indah ataupun angin laut yg lembut membelai pipiku yg membuatku terpesona.










Malam itu, aku menemukan sesuatu yg lain...
Malam itu memang aku berniat untuk tidak tidur alias begadang hingga pagi menjelma. Diam2 aku menyelipkan keinginan untuk sekedar berbincang2 dengan para sahabat yg sungguh luar biasa. Awalnya pembicaraan itu berkutat seputar perbedaan pete alias jengkol versus terasi. Haha, lucunya kalian ini... Namun ketika malam semakin pekat, aku tahu, akhirnya perbincangan itu kian serius. Entah mereka sudah merencanakan atau bersekongkol untuk membahas tema itu... Arti kebebasan. Ah, kalian bisa membaca pikiranku? Atau mungkin kalian sudah membaca notes2ku sebelumnya. Overall, I like it... 

Satu persatu dari mereka mulai mendiskripsikan persepsi mereka tentang kebebasan. Aku tahu guys, kalian ingin membantuku untuk menemukan kebebasanku bukan? Aku sangat menikmati diskusi malam itu... Berteman kopi, dan juga asap rokok yg kalian hembuskan di tengah2 perbincangan kita. Aku tiba2 saja tergelitik untuk mencoba sesuatu (dan kalian sudah tahu benar apa itu). Mungkin kalian berfikir aku gila, atau terlalu depresi dan frustrasi akan hidupku... Haha, whatever. Aku hanya penasaran, dan rasa penasaranku itu memuncak, meledak di malam itu juga. Aku sama sekali tidak berniat kalau apa yg aku lakukan itu menyinggung, atau melukai perasaan seseorang. Meski pada kenyataannya ada pihak yang jadi tidak enak hati.... Aku minta maaf yg sebesar2nya. Jujur, sebetulnya aku tidak terlalu ambil pusing atas penilaian kalian seperti apa setelah kejadian itu. Yah... It's me... 

Malam genap berganti dini hari. Satu demi satu personil undur diri untuk istirahat. Diskusi berjalan dengan sisa peserta lima orang; 3 cowok, aku dan 1 teman cewek lagi. Aku... Bisa dibilang, terpesona dan antara percaya tidak percaya... akhirnya aku menemukan sosok cowok macho yg selama ini hanya hidup dalam imajiku. Tidak tanggung-tanggung, 2 cowok macho duduk bersamaku malam itu. Penampilan luar yg sangat biasa saja, bahkan terkesan seadanya, selalu berteman rokok dan gaya bicara santai namun nyambung ketika diajak berbicara tentang esensi kehidupan, pencarian jati diri dan eksistensi Tuhan. Aku suka gaya mereka... Ah, benar2 macho! Kenapa tidak dari dulu2 ya kita bertemu? Yg paling memukauku adalah pola berfikir kalian... Analogi2 kalian tentang Tuhan dan tentang eksistensi, yg dalam bahasa kalian "keberadaan". Dan tentang segitiga bersisi empat, kau benar2 memberikanku sesuatu yg tak pernah terfikirkan sebelumnya olehku. Hey, Cowok2 macho, welcome to my life. Hoho. Hmmmm... Sementara 1 teman cewek tadi... Uhh, benar2 menginspirasiku. Dia satu2nya cewek macho yg pernah aku kenal... Gayanya... I really love it :D 

Di sela2 malam itu, aku menyempatkan diri untuk duduk sendiri, merenungi apa2 yg telah kuperoleh dari diskusi malam itu, mencerap rasa yg sulit kugambarkan dengan kata2. Benarkah aku telah memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang kebebasan itu... Aku duduk sendiri, di hadapanku terbentang laut yang tidak terlihat ujungnya. Ombak2 putih menggulung, berlari, lantas pecah ketika mencapai bibir pantai. Aku sekali lagi merunut hatiku, bertanya pada diri sendiri. Inikah akhir pencarianku? Entah mengapa aku menginginkan pria itu (pria yg aku bicarakan di "surat untuknya"). Bodoh mungkin. Aku sendiri tidak yakin apakah aku akan tegar ketika dia muncul, ataupun sekedar hanya mendengar suaranya di ujung telepon. Perasaanku memang betul2 aneh. Aku sangat merindukannya, dan di detik itu pula aku siap untuk melepaskannya... Bukan karena aku telah melupakan perassan istimewa itu, ataupun karena aku telah menemukan orang lain. Tidak, bukan karena itu semua. Aku yakin aku sudah melewati masa transisi yg penuh dengan perjuangan. Aku bebas sekarang. Aku tidak akan lagi merasa tersakiti ketika aku mengingat masa lalu yang merekam kisahku dengannya. Mungkin aku bersyukur, banyak hal yg aku peroleh dari masa lalu itu... 

Pria macho yg menemaniku menjemput pagi sempat menertawaiku ketika mengetahui bahwa motif kedatanganku ke Makassar adalah untuk mencari kebebasan. Oh mamen... Jangan gitu, plis... Itu hanya sekitar 5-10% saja dari keseluruhan hal yg melatarbelakangi kedatanganku. Aku jadi merasa sedikit malu. Tapi tak apalah. Malam itu aku merasa benar2 bebas menjadi diriku sendiri... 

Sebelum note ini berakhir, aku ingin menyampaikan penghargaanku kepada pihak2 yg sangat istimewa... 

Pertama, Devita... Hey, makasi banget sudah menemukanku. Rasanya ini mengada-ada, tapi semua ini memang telah direncanakan Tuhan untukku. Aku pernah menyimpan keinginan untuk suatu saat datang kembali ke tanah kelahiranku, Makassar. Tapi aku tidak punya siapa2 lagi di sana. Eh, kok ya kebetulan banget. Beberapa bulan kemudian kamu "menemukanku" di facebook, sesaat setelah aku mengubah nama tampilanku dengan nama panjangku yg sebenarnya... Aku kamu masukkan ke grup teman2 SD di fb. Mamamiya! Rasanya seperti menemukan sepenggal kehidupanku yg sempat hilang. Kesempatan telah terbuka, dan kebetulan finansialku juga dalam keadaan yg membahagiakan. Tanpa pikir panjang (dan tanpa menunggu ACC dari ortu :P) akhirnya aku berangkat! Tapi sayangnya hingga detik aku kembali ke Jawa, kita tidak sempat bertemu. Hiks. Suatu saat semoga kita bisa bertemu ya... Amin :) 

Dan...yg kedua, yg teramat penting... Kepada Firda sekeluarga yg telah menampungku di istana mereka selama 8 hari 8 malam. Apakah aku merepotkan? Oh, pastinya. Aku sadar diri kok, hehehe. Tapi firda sekeluarga menyambutku dengan hangat, menjamin tidurku (meskipun tiap malam firda tidur duluan dan meninggalkanku insomnia sendirian), makanku, mandiku, dan segalanya... Rasanya seperti keluarga sendiri. Hiks. Terharu... Terimakasih Om, Tante, Firda dan adek kakaknya... Kapan2 kalau aku ke Makassar lagi, masih mau menampungku kan? Ahaha :P 

Sahabatku Buyung... Maaf ya kalau aku agak mengecewakanmu, tapi aku yakin kamu nggak marah to? Makasih udah diajak jalan2 ke benteng fort rotterdam, pantai losari dan jadi fotografer pribadiku... Oh iya, makasi juga uda ditraktir pisang epe di pinggir jalan... pesenku, belajar lagi ya, biar bisa jawab waktu aku tanya dan waktu kuajak diskusi, hehee. Tapi aku salut sama ke-PD-anmu :) 

Dan... Fahmi, si Cowok macho... Oh, Gosh! I really love yourstyle. Ceritamu tentang seseuatu yg nyata ada, yg mungkin ada, dan yg mustahil ada nggak akan kulupakan... Oh iya, aku janji akan jawab pertanyaanmu tentang tuhan butuh waktu... Siapkan amunisimu boy ;) 

Andy... Abang yg paling aneh di dunia. Huft. Pesanku... Be gentle! Jangan terlalu posesif kalau kamu tidak mau melihat cewek2 lari menjauhimu... Mmmm, makasih udah ngajarin logat Makassar, tapi kayaknya aku gagal... Makasi udah menyiapkan semuanya yg di Makassar untuk aku, juga traktiran coto Makassarnya.. Makasi banget... 

Awan... Cowok macho kedua. Kamu satu2nya cowok yg masih kuingat nama panjang dan bentuk wajahnya setelah 12 tahun nggak ketemu. Sayang sekali malam itu di Bira waktu terasa sangat singkat. Padahal masih banyak banget yg pengen aku obrolin. Oiya, makasi uda ngikuti notes2 yg aku buat... Makasi juga buat bercandanya dengan menirukan logat Jawaku. Huft, Dasar dekil :P sedih banget lo waktu tadi kamu nggak ikut nganter ke airport, yah... Gapapa lah, aku lagi berbaik hati kali ini jadi aku nggak marah... Sukses buat skripsimu, mamen ^^ 

Dede... Cewek macho... Kamu keren banget mbak bro, gue suka gaya loe. Meskipun di memoriku samar2 tentang dirimu semasa kita SD dulu (apa dulu kita nggak berteman ya? Huhu) tapi sejak hidupku selama 8hari di Makassar, rasanya aku menyukaimu deh... Eits, jangan GR dulu ya... Mmm, makasi juga buat kata2 yang gue banget waktu malam itu di Bira... Yunomisowel lah... Selamat ya sudah menjadi psikolog pribadiku (haha, main rekrut ini ceritanya). Oiya, makasi juga buat detik2 terakhirku di Makasar... Makasi udah diajak ke pantai Akarena, ke Trans studio, nemenin belanja oleh2 dan ngantar aku sampe airport. Seharian tadi kita kayak orang pacaran deh, hahaha. Sukses buat skripsimu... Sampai ketemu di Jogja ya (amin) :D 

Edir... Murid baru pas setelah aku pindah ke Jawa. Jadi aku nggak kenal deh... Tapi akhirnya kita kenalan. You're a nice person. Kamu baik dan loyal, selalu datang waktu acara demi aku yg datang jauh2 (GR dikit ah, haha) setia kawanmu tinggi bro, makasi juga uda ngikutin notes2ku dan mengulang2 pertanyaan "kapan ni endingnya dibuat?" senang deh punya teman kayak kamu :) 

Weldy... Satu2nya teman cowok yg wajahnya sama sekali nggak berubah. Tetap bikin pengen ketawa tiap kali lihat kamu, hoho. Maaf2... Aku suka banget gaya kamu yg easy going dan apa adanya. Namun aku juga tahu, di balik sikap santaimu itu kamu berjuang buat masa depanmu. Aku dukung kamu sepenuhnya. Sukses ya... Weldy idol ^^, 

Rasanya noteku ini panjang sekali, BB ku sampe habis baterainya. Maaf ya buat yg lain yg tidak bisa aku deskripsikan satu2... Nunung teman kecilku, Dwi yg selalu cantik, Nurul si ibu haji, Maman si pembalap, ria, lina, anti, Jen, wiwi, ariskawati, ariani, pman, edir yg ke Jawa padahal kunantikan di Makassar, kasmiati, makasih teman2 semuanya yg sudah memberi kehangatan dan warna tersendiri dalam perjalananku kali ini. Kalian orang2 yg spesial guys... Semoga suatu saat kita ketemu lagi, amin... 

Balik ke kehidupanku... 
*aduh sepertinya aku mabuk dalam mobil menuju Malang* 

Well, balik ke kehidupanku... Kalian semua pasti masih bertanya2 bagaimana persepsiku saat ini tentang kebebasan... Menurutku, kebebasan adalah saat kita melakukan segala sesuatu yg masih berada dalam kontrol diri dan kita sadar atas perbuatan itu...tanpa ada intervensi dari pihak luar namun dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan agama. Kebebasan itu... Jadi diri sendiri, jadi pribadi yg sehat... 

Semoga jawabanku itu cukup menjadi pemanis ending note "Arti Tanah Ini". Tapi aku kurang suka menyebut ini sebagai ending, suatu akhir... Sebab tidak ada akhir dalam petualanganku, aku akan terus berlari, menembus batas ketakutanku sendiri dan menikmati sejengkal demi sejengkal kisah yang direncanakan oleh Tuhan, yg kisah itu mungkin akan berubah dengan aktualisasi dariku... 

Selama masih ada teknologi... selama bb terisi pulsa, selama modem menancap, jarak yang jauh pun akan terasa dekat kawan. Jangan sedih bila merindukanku, hehe. Hanya satu kalimat yang pantas kuucapkan untuk kalian semua... "Tena Maraeng, Dekkeng" :D

Arti tanah ini... Never ending story 

Arti Tanah Ini (additional part: surat untuknya)

Hari ini aku terbangun dengan perasaan gamang. Akankah yg aku cari dapat kutemukan? Benarkah kebebasan itu dapat kumiliki? Aku ragu...kalau semua ini hanya manipulasi oleh otakku saja...aku takut kalu selama ini aku hanya terbuai oleh khayalan yg tercipta dalam imajiku sendiri... Lantas kemana lagi aku harus pergi? Aku... Jengah! 

Semoga kau yang ada di sana membaca tulisan ini. Ya, aku menujukan tulisan ini untukmu yg selalu semena-mena terhadapku. God, am I in a galau condition? -____- 

Aku mencoba mencari arti dari segala hal yg datang dan hilang. Tapi semua itu menjadi kabur ketika harus menghadapi dirimu. Kau tidak datang namun juga tidak hilang. Kau selalu hadir dalam keabsenanmu. Aku sudah benar2 gila mungkin... Aku mohon, jika kau ingin pergi maka pergilah... Mengapa kehadiranmu masih tersisa di setiap tempat aku berada? Puaskah kau karena telah menjadi satu2nya yg memenuhi kehidupanku? Itukah yg kau harapkan? Aku ingin menghapusmu... 

Aku coba mengerti apa yang menjadi inginmu. Tapi pernahkah kau sekali saja menanyakan apa yang kuinginkan di saat kau datang dan hilang, kau muncul dan pergi berulang kali? Aku merasa bodoh... Aku tidak pernah tahu apakah selama ini aku salah atau tidak. Yang aku tahu semuanya baik2 saja, mungkin... Entahlah... 

Pernahkah kau memikirkanku? sekali saja...di saat menjelang tidurmu, atau di penghujung doamu seusai shalat... 

Seandainya melupakanmu sama mudahnya dengan perjalananku sendirian ke Makassar... Sayangnya semua itu klise. Hanya sebatas anganku untuk mencapai kebebasan, memerdekakan hatiku dari perasaan tidak logis kepadamu. Melupakanmu mungkin akan sama halnya dengan menghapus sebagian kisah hidupku, warna warni kehidupanku dan kepribadianku. Ah, bodohnya. Kali ini defense mechanismku rusak dan aku gagal dalam self actualization... 

Hari2 menjelang kepulanganku kembali ke Jawa... Aku harus menemukan jawaban itu, atau bahkan cara untuk menjauh darimu, tanpa perlu melupakanmu, tanpa perlu menyakiti diriku sendiri... 

Tahukah kau, selama ini hanya dirimu seorang... Belum ada, mungkin tidak ada, yg lain... 



Arti Tanah Ini (part 4: kopi, kebebasan)

.... 

Aku tidak bisa menunggu terlalu lama hanya untuk sebuah balasan sms. Akhirnya kutelepon ibundaku untuk memastikan semuanya baik2 saja (semoga masih dianggap anak, huft). Nada tunggu pertama kudengar, dan... Yak, panggilanku diterima. 
"Assalamu alaikum ibuuuk" sapaku ceria seolah tidak ada apa2 
"eh eh, masih berani telepon? Dimana? Makassar he? Beraninya kau sendirian kesana! Sejak kapan disana?" 
Alamak...satu2 dong tanyanya, ujarku dalam hati. 
"ya berani dong buk, dari hari minggu" ucapku masih dengan cengar cengir. 
"di rumah siapa? Kapan pulang? Cepat pulang!" 
"rumah firda tawwa... Dari hari minggu, pulang senin depan buk..." 
"pake uang siapa kesana?!" tanya ibu masih dg nada marah2. 
"mmh...nggg..." aku bingung menjawab. 
"cepat pulang!" 
"nggghhh...." 
"udah, gak usah pulang sekalian!" 
Alammmaaakk 
"eh eh, ibuk mau oleh2 apa?" tanyaku merayu. 
"mau menyogok ibu? Wes ora usah oleh2an, pulang!" 
Tut tut tut. Telepon terputus. 

Bundo oh bundo... Tidakkah kau memahami passion anakmu ini yg selalu mendamba untuk berkelana, mendatangi tempat2 baru, bertemu dan berinteraksi dengan orang2 di lingkungan berbeda? Aihhh, alih2 disokong dana, aku malah ditodong utk secepatnya pulang, hmmm, maaf bundo... Belum bisa sepertinya, duh gusti, ampuni kulo... 

Alhamdulillah semuanya berjalan normal. Aku bersyukur dimarah2i ibu via telepon. Rasanya sedikit rinduku terobati ketika mendengar Beliau ceramah, hehee. Itu normal. Untunglah Beliau marah. Justru jalau tidak marah itu malah bahaya. Di sela2 kemarahannya, ibu juga menyeletuk tingkah Ayahku yg cuma senyum2 ketika mengetahui aku sudah di Makassar, uhhh...Ayah memang keren dah. Sementara adek Ardi heran melihat ulahku yg sok berani katanya, dan si bungsu langsung menyambar buku serta alat tulis dan seketika itu membuat list oleh2 yg harus kubawa. Hadededeh, keluargaku... Benar2 unik, I miss u all... 

Sore hari merajuk, aku bersiap, seorang teman mengajak keluar. Baiklah... Jam 3 tepat kami meluncur. Panasnyo... Di tengah perjalanan Bundoku sms lagi. You know what guys, smsnya bilang apa? 
"jangan keluar sama teman cowok. Cepat pulang" 
Wheng? Bundoku ini punya indera keenam atau apa to kok bisa tau apa yg aku lakukan? Naluri ibu memang hebat dah. 
Ampun bundo...kali ini sajo izinkan aku bandel (hehee, kayak gk pernah bandel aja aku ini) 

Mmmm, bukannya aku terlalu percaya, tapi firasatku orang yg mengajakku keluar termasuk orang baik2 kok, aamiin,,semoga sajalah firasatku benar. Well, first destination was benteng fort Rottredam...foto2, berpose ria di bawah matahari yg membakar dn diliatin tukang2 yg kebetulan sedang merenovasi sebagian gedung. Hihihi, muka tembok banget sih aku? Biarlah...cuek bibeh :P 






Dan aku pun teringat janjinya... Dia mengajakku keluar karena akan membicarakan sesuatu. Hmmmm, akankah dia menjadi pria macho yg mengajakku bertukar argumen? Membicarakan tentang distorsi nilai2 kehidupan, entitas kebebasan, ketidakmengetahuan manusia akan kekuatan maha agung, atau filsafat lainnya? (silahkan baca di blogku tentang persepsiku soal pria macho). Tapi plis... Aku berharap bukan persoalan hati. Waktunya tiba. Dia pun akhirnya buka mulut... Aihhh, haruskah kujawab? Sorry, I can't... We're friend, just it's used to be... No heart feeling my man... Ok? Maaf, ada banyak alasan sebenarnya kalau boleh jujur. Untuk saat ini aku tidak bisa menerima siapa pun pria yg datang (eh,nggak juga ding, lihat2 sapa dulu orangnya, hoho) jujur, aku jenuh dan lelah dengan semua tetek bengek cinta dan apa itu namanya? Rasa Sayang? Hah. Bullsh*t. Enyahlah kau cinta gombal dari muka bumi. Apakah aku terlalu arogan? Entahlah... Aku hanya mencari kebebasan... Aku ingin memerdekakan jiwa ragaku dari belenggu cinta semu nan bodoh yg lama menjajahku. Salahkah aku? Apakah aku terlalu jahat? But... I'm really disappointed. Why are you so obsessed with me? I don't belong to anyone, I mean, any boy... Do you get it, bro? 

Semua uneg2ku tumpah sudah di Rotterdam...diselingi beberapa bulir air mata yg tiba2 meleleh begitu saja... Entahlah, ini perasaan sedih dan sesal atas masa laluku, atau merupakan tangis bahagia karena aku merasa sudah berada pada titik dimana aku telah yakin dan berani untuk melupakan kenangan2 pahit itu... Ah, akhirnya kau tahu bagaimana wajahku ketika menangis! Tapi tak apa lah, aku merasa sangat amat lebih baik sekarang... 

Hari beranjak kian sore. Aku diajaknya ke pantai Losari, menanti sunset, foto2 lagi...diliatin orang lagi, ah...masa bodoh. Suka suka! :D 







Iseng aku bertanya pada cowok ceking yg sudah kupatahkan hatinya (aih, terdengar jahat kah kalimatku barusan? Hehee, piss) tentang makna kebebasan... Dan dia menjawab sekenanya. "kebebasan ya dimana kamu bisa melakukan apa pun semau kamu" uhh, singkat sekali! >,< 

Aku mengurungkan niat utk melemparkan topik2 pembicaraan selanjutnya. Maghrib tiba. Kami shalat. Makan pisang epe' di pinggir jalan dekat pantai ditemani anak2 kecil yg meminta2. Ingin aku menanyai mereka satu persatu tentang konsep kebebasan bagi mereka itu seperti apa. Tapi aku mengurungkan niatku, mereka masih terlalu polos mungkin utk memberiku secercah pencerahan... 

Waktunya pulaaang! Ada sms masuk, seorang teman yg memintaku untuk mampir ke rumahnya... Baiklah... Eits? Dia lagi galau? Gara2 aku jalan sama temannya? Hassshhh. Pliss teman2... I really hate such thing! 

Di tengah kepenatanku, dengan baiknya ibunya mengantarkan kopi susu... Ah, hidup memang rumit. Tapi menikmati kerumitan itu menjadi suatu kenikmatan tersendiri. Layaknya meminum secangkir kopi, jika kau meminumnya cepat2, lidahmu akan sakit. Semakin terburu2 kau menyelesaikan masalah, akan banyak luka mendera jiwa dan ragamu. Namun jika kau terlalu lama menghabiskan kopimu, maka kopi itu akan dingin dan rasanya sama sekali tidak enak. Sama halnya dengan membiarkan masalah yg datang, masalah itu menjadi berlarut2 dan kau akan jenuh dan jengah untuk menyelesaikannya... Ah, otakku selalu kemana2 saat menyeruput secangkir kopi... 

Tiba2 aku teringat kata2 abangku di malang, bukan kakak kandung sih, tapi dia selalu jadi tempat untukku mengadukan kegalauan, huhuhu... Aku pernah bertanya padanya tentang apa itu kebebasan. Dia menggeleng katanya belum tahu. Tapi dia menertawaiku yg jauh2 datang ke Makassar utk mencari kebebasan. 
"ngapain mesti jauh2 neng? Kebebasan ada dimana2..." 

Ahh...aku butuh kopi lagi... 

*to be continued* 

Jumat, 03 Februari 2012

Arti Tanah Ini (part III: napak tilas)


Kemarin hariku terlewati dengan ceria lagi. Alhamdulillah, I love You more Ya Rabb :') 

Di pagii hari firda mengajakku keliling kota Makassar, membayar rekening telepon dan servis motor. Aku jadi teringat peranku biasanya waktu di rumah Mojokerto: disuruh ke sana kemari, membeli ini itu, mengantarkan kesana kemari... Tiba2 jadi kangen orang rumah nan jauh di sana, hiks. Apalagi kedatanganku ini bisa dibilang kontroversial. Aku sudah minta izin sih... Ayah sah sah saja, malah menyokong dana. Ayahku is the best lah pokoknya. Di lain pihak ibundaku masih agak ragu dan enggan memberiku izin. Tapi aku yakin, seumpama aku tetap pergi ke Makasssar (dan kenyataannya demikian) kemudian Ibuku mengetahuinya, aku sekali lagi yakin Beliau tidak akan marah. Insya Alllah, aamiin... 

Hari berjalan lambat sekali kemarin. Dari pagii hujan sudah mendera. Sempat reda sebentar waktu siang dan berlanjut lagi 
menjelang sore. Alhasil, rencana untuk foto angkatan yang semula pukul 15.00 WITA mundur menjadi pukul 17.00 WITA. Benar2 bikin galau nungguin hujan, nungguin teman2 yg lain ngumpul, ribet ini itu dan segala tetek bengeknya. Hmmm, tapi seru kok. Apalagi waktu nyampe di studio foto. Benar2 berekspresi mereka semua, I really love the time when I was with them :) 




Dan semua keseruan tidak berhenti sampai di situ. Kebersamaan dn "kegilaan" kemudian berlanjut di pantai Losari setelah shalat maghrib tentunya. Ah, finally I came bach to that memorable place. Langit telah gelap, namun tidak mengurangi rasa kagumku. Ah, afida...lebay sekali kau, hehee. Tapi jujur, aku hampir tidak menyadari kalau tempat itu adalah pantai Losari seandainya saja tidak ada huruf2 balok besar terbuat dari beton yang berdiri tegak di sana. It was totally changing! Semuanya benar2 berubah. Bebatuan di pinggir pantai, para penjual2 itu, patung hewan2 yg dulu menjadi tunggangan favoritku.... Sudah tidak ada lagi. Ya jelas lah, secara 12 tahun aku pergi... 


Aku dan teman2 mengobrol ngalor-ngidul, membahas ini itu termasuk rencana liburan akhir pekan nanti. Sebelum pengamen yang datang semakin banyak, kami bergegas pergi menuju rumah makan (ternyata perut nggak kenyang kalau cuma diisi sama guyonan dan ketawa2, hehehe). Makan, bercanda lagi, bertukar cerita dan keadaan masing2 seperti apa... Hampir semua cerita intinya sama: BERJUANG! Dengan kuliahnya, skripsi, pekerjaan, mencari kerja, keluarga dan anak2... Moodku dalam tingkatan sangat2 excited semalam. Banyak pelajaran yg aku peroleh tapi tidak dapat aku sebutkan di sini. Yah, biarlah mengendap dalam otak dan hatiku saja. Sehingga dapat kugunakan sebagai bahan bakar di saat aku membutuhkan semangat :) 

Jarum jam membawa waktu berlalu terlalu cepat. Kami bergegas pulang (ternyata masih ingat rumah juga anak2 ini, lol). Menuju rumah firda, yg aku tinggali selama di Makassar, aku dibonceng pembalap. Truly like Valentino Rossi. Aku sudah lama tidak kebut2an bang (semenjak kecelakaan waktu itu). Motor melaju bak kilat, membelah malam tanpa ragu (atau tanpa takut ya? Huft), Sesekali aku berteriak karena ulahnya itu; serong kanan, serong kiri, memotong jalan, ambil kaban mendahului yg lain, alamaaakk =,=" ngeri sangat, tapi aku, sekali lagi, menikmatinya :D 

*...*...* 

Pagii ini aku menghabiskan waktu dengan berjalan2, menyusuri blok Minasa Upa. Layaknya pantai Losari, perumahan ini pun berubah. Sangat drastis malah. Tapi tadi aku masih mengingat gang, belokan dan rumahku dulu dengan tepat... Blok AB 9 nomer 11... Sekrang rumah itu megah nian, berbalik 180 derajat dengan dulu. Rumah tetangga2ku juga... Mungkin banyak yg sudah pindah, termasuk teman2 sepermainanku semasa kecil dulu... Angin pagii sedikit mempermainkan tatanan kerudungku, namun juga membelai pipiku lembut, tiba2 teringat ibundaku lagi... Ah, sampai detik ini aku belum memberitahunya bahwa aku sudah berada di Makassar. Maafkan anakmu ini, bundoo T.T 


Setelah hampir 2jam berjalan2, aku dan firda pulang ke rumahnya lagi. Sesampainya di kamar, aku meraih hp dan... Menemukan ada sebuah pesan...dari ibu! Dag dig dug, jantungku berdegup. Kubuka pesan singkat yg benar2 sangat singkat namub membuatku sangat kebingungan untuk membalas "sibuk ngapain, Nak?" hadadah... Kali ini aku harus jujur mengatakan kalau aku sudah di tanah orang. Aihhh. SENT. Sudah kubalas. 5 menit, 10 menit, 25 menit, 1 jam... Berlalu tanpa ada balasan lagi dari ibuku. God...help me? Is she angry? I don't mean to do so... T.T 

*to be continued*

Arti Tanah Ini (part II)

Masih teringat jelas momen kedatanganku di Makassar kemarin sore. Akhirnya, passion yg selama ini hanya terpendam dapat menjadi kenyataan. Dan di bandara internasional sultan hasanuddin itu aku terlihat seperti orang gila yang senyum2 sendiri gara2 saking senangnya. Segala syukur hanya kusebut padaMu, Rabb :') 

Matahari cerah sekali sore itu. Padahal kata temanku sudah beberapa hari ini hujan mendera. Hmmm, mungkin kedatanganku membawa kecerahan dan keceriaan tersendiri, hihihi. Aku dijemput seorang teman saat kecil dulu... Yah, meskipun tadi sempat muterin bandara buat nyariin dia. Maklum lah, lama tidak ketemu jadi susah me"recognize" wajahnya. 12 tahun pisah bro... Hmmm, sepanjang perjalanan aku ngobrol gak jelas sama dia. Mau gimana coba, aku logat Jawa yg medhok ketemu dia dg logat Makassar yg ngomongnya cepet banget. Tapi...lucu juga si :D 

Hatiku semakin dag-dig-dug ketika mendekati rumah singgah pertamaku. Betapa tidak, katanya teman2ku sewaktu SD dulu sudah menunggu di sana. Aihhh, nervous kali diriku... 

Dan... Finally aku tiba. Ah, berpasang-pasang mata itu mulai menyorotku, jantungku rasanya mau loncat keluar dari tubuhku, rasanya panas dingin, tapi somehow I really enjoy such situation, aku benar2 menikmati momen di saat bertatapan dengan wajah2 mereka dan menjabat tangan mereka. Oh God, I really love you for making me a chance to meet them. Teman2... Maaf kalo beberapa nama agak samar dalam memoriku, tapi aku masih ingat kok dengan wajah2 kalian. Tidak banyak berubah kok, tapi tambah cantik2 yang cewek2... Yg cowok2 tambah gak karuan, haha. Aku sangat menyukai cara kalian menyambut kedatanganku guys, seandainya dapat aku ungkapkan pake logat Makassar, pasti lebih seru ya? Pokoknya love you all ;) 

Malam itu rencananya aku menginap di rumah firda, salah satu teman SD ku juga. Aduh, merepotkan sekali aku ini... Tapi lagi2 aku terharu merasakan keramahan kelurga firda, hiks hiks *menangis bahagia* 

Kemarin hidupku terjamin, hari ini pun seperti itu... Kebetulan sekali keluarganya ada rencana jalan2 ke wisata kebun. Alhamdulillah diajak... Tapi... Si firda tidak ikut karena dia mengikuti tes kerja... Salut deh, meskipun satu angkatan tapi dia udah lulus duluan. Dan sekarang malah udah nyari kerja. Sementara aku? Hiks, jadi malu sendiri.Baiklah, tidak apa. jadikan hal itu penyemangatmu fida ^^ 

Hmm, di luar dugaan, ternyata piknik tadi tidak hanya keluarga (baca: ortu dan adik2nya firda) saja, tapi keluarga besarnya juga! Tiga mobil pula, ada tante2nya, Om2nya, sepupu2nya, dan masih banyak lagi. Berasa jadi penyusup. Hadadah. 

But you know what guys? Mereka malah menyambut dan menerimaku di tengah2 keluarga mereka. Terharu, baiknya... Aku jadi kangen keluarga di rumah T.T 

Inilah salah satu hal yang aku cari. Sebagai anak yg dilahirkan di Makassar, dengan tegas harus kukatakan bahwa aku adalah anak pesisir, layaknya mereka, aku berani dan apa adanya. Aku selalu to the point atas maksud, pikiran dan keinginan2ku tanpa perlu ada istilah "mbulet". Aku, layaknta orang Makassar lainnya, selalu bersikap terbuka dan ramah. Tidak kaku terhadap satu hal paten dan enggan pada sesuatu hal baru yang dianggap asing. Aku, dan orang Makassar lainnya, mudah berinteraksi dan membaur dengan hal2 yang baru... Ya, aku tidak takut menghadapi kehidupanku yang aku sendiri tidak tahu akan seperti apa esok hari. Selagi ada niat baik, berusaha dan berdoa... Nothing's impossible. Aku tidak sabar menanti kejutan yang Engkau persiapkan untukku besok Ya Rabb, I Love You More :') 

*to be continued* 

Arti Tanah ini (part I)

Masih beberapa jam lagi jadwal keberangkatanku. Huft. Travel yang kupesan kemarin menjemputku terlalu cepat... Tapi tak apalah, semoga aku bisa menemukan sesuatu di bandara ini yang mampu membunuh rasa bosan akibat menunggu. 

Baiklah, aku duduk tepat di pintu keberankatan. Lumayan... Dari sini aku dapat melihat segala sesuatu, hiruk pikuk, urat nadi kehidupan Juanda... Hal yang pertama kulihat adalah satu keluarga yang tengah melepas keberangkatan seorang pria yang ujung mata dan dahinya telah dipenuhi dengan kerut. Mereka saling berpelukan dan mengecup masing-masing kening dan pipi. Aku jadi terharu melihatnya... Tak lama setelah itu datang sepasang kekasih (mungkin), si cewek bergelayutan manja di lengan si cowok. Kedua tangan Mereka bergandengan cukup lama, sembari membicarakan ini itu yang tidak dapat kudengar dengan jelas. Mungkin kata2 perpisahan, atau sekedar janji untuk saling menunggu hingga suatu saat si cowok kembali... Entahlah, tidk ada yang tahu tentang hari esok. Biarlah kedua insan itu saling mematri janji dan meluapkan harapan2 mereka, selagi waktu masih mengizinkan mereka untuk sekedar bertatap muka untuk yang terakhir kalinya... Ah, kali ini seperti momen2 yang sering tayang di film2 percintaan. Si cewek menangis dengan kalem, si cowok dengan berat hati melangkahkan kakinya meninggalkan si cewek.. Semga suatu saat kalian dapat dipersatukan kembali, aamiin... 

Masih 1jam lagi sebelum check in. Aku hendak beranjak untuk pindah tempat, namun tercegah oleh gerombolan gadis yang berlarian sambil berteriak histeris. Apa sih? Aku kembali duduk di bangku besi yang sedari tadi kuerami. Gerombolan gadis2 belia itu berteriak makin histeris ketika beberapa pria mulai memasuki bandara. Oh, anak band... Last Child namanya, kalau tidak salah... Aku rasa tidak ada salahnya mengagumi seseorang, tapi rasa-rasanya aku tidak nyaman dengan kehebohan gadis2 itu... Sudahlah, lebih baik aku langsung check in saja... 

Ini pengalaman pertamaku... Terbang... Pulang kembali ke tanah kelahiranku. Perlahan pesawat yang kutumpangi melepaskan pijakanku dari atas tanah Jawa, mengangkat tubuhku ke atas gedung2 hingga akhirnya menyentuh awan yang berarakan. Seketika itu anganku bermain dengan asaku sewaktu kecil yang mendamba menyentuh awan.. Ah, masa kecil dan tanah yang kutinggalkan... 

Hanya butuh satu jam saja aku menjelajah angkasa, hingga akhirnya aku tiba di tanah yg selalu kurindukan ini, Makassar... 

Tidak sedikit orang yang heran melihat tekadku untuk datang ke tempat ini. Seandainya mereka tahu betapa besar passion, hasratku untuk kembali merunut jejak kehidupanku yang tertinggal di tanah ini. Yah, ini hidupku dan aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan atas hidupku... Itulah alasanku. Aku ada untuk bebas. Aku ingin menembus limitasi diriku sendiri, melenyapkan jurang2 ketakutanku sendiri. 

Tanah ini benar2 tanah kebebasanku. Dan aku memang tidak berniat mengajak siapa pun dari tanah Jawa untuk datang kemari, kecuali keluargaku tentunya. Di sini aku bisa merangkai kenanganku sendiri, setidaknya untuh beberapa hari. Tapi itu sudah lebih dari cukup bagiku. Aku bisa sejenak melepaskan belenggu kenangan yang tidak aku inginkan di tanah Jawa, kenangan oleh seseorang yang memenuhi ruang dan waktuku. Rasanya tidak ada tempat lagi di tanah Jawa untuk menjadi diriku sendiri, tanpa ada bayang2 orang itu... Dia ada dimana2, di sekolahku dulu, di rumakhku, di jalan2 itu, di segala tempat yang aku datangi selalu menyimpan dirinya untuk diproyeksikan kembali ke dalam masa "saat ini"ku. Entahlah, semua hal itu tak enggan juga menghantuiku... Mungkin suatu saat aku akan melanjutkan hidupku di sini saja, di Makassar... Wallahu a'lam... Makassar oh Makassar, betapa aku mendambamu... 

Oh ya, Tapi terlepas dari itu semua, hal yang paling penting adalah pencarian jati diriku, keutuhan diriku yang selama di Jawa terbelenggu oleh perasaan cinta bodoh yang menjajahku... 

Well, I'm ready for the journey...





Kamis, 19 Januari 2012

sensasi (kopi - pria macho)

Ah, hujan lagi-lagi bertandang sore ini. Tidak seperti ekspektasi sebelumnya: sore ini akan cerah, mega-mega merah akan berkumpul di barat mengantarkan sang surya kembali ke peraduannya, dan tepat di kafe ini aku akan menikmati keindahan alam itu bersamanya… dia… pria macho itu.

Tapi kali ini ceritaku akan sedikit berbeda mungkin. Sore ini tidak akan kami habiskan dengan bermandikan cahaya keemasan dan hangatnya matahari sore. Justru gemericik air yang melompat-lompat kecil menerobos lewat teralis jendela, ditambah angin mendesau menciptakan melodi tersendiri yang mengiringi sore indahku, bersamanya…

Ah, akhirnya dia datang juga. Masih seperti itu. Tetap saja seperti itu. Kaos oblongnya, celana jins yang berlubang di bagian dengkul, dan rambutnya yang acak-acakan… Dari arah pintu dia dapat dengan langsung mendeteksi keberadaanku. Kini kami duduk berhadapan. Kubiarkan dia memesan menu favoritnya yang juga merupakan kesukaanku; segelas kopi original, di senja menghimpit…

Tanpa muqoddimah panjang atau sekedar basa-basi menanyakan kabar, dia langsung saja menyerocos tentang hal yang menjadi, melalui proses dialektis antara ada dan tiada… mereka saling bernegasi, berkontradiksi, bermediasi yang tidak hanya berada dalam idea tapi di dalam dunia nyata. Oh,man… kau memulai diskusi kita terlalu dini! But I really love it :D

Entah akan ke arah mana perbincangan ini akan bermuara.. Kita terus saja bertukar argument, ide, dan rasanya aku ingin menumpahkan seluruh isi otak ini… kita berbicara ini itu, distorsi  kehidupan, keterpisahan kognisi manusia dengan nilai-nilai transendental, skripturalisme Qur’an, teleologi, ah… kepalaku rasanya mumet tapi sangat sangat menikmatinya.

Pria macho itu mulai mengambil satu pack rokok A-mild dari saku belakang jinsnya. Diambilnya sebatang, lalu disulutnya. Tak lama asap hadir di tengah-tengah kami, sedikit menghalangi pandanganku sih… tapi hal itu tidak pernah  menghalangi ruang diskusi kami. Entah darimana rasa itu datang, adiksi akan dirinya…

Apalagi sekarang bung? Persetubuhan rasio, persepsi dan hati nurani?iya iya, aku ingat… David Humme “I never catch myself at anytime without any perception”… apakah bagimu sebuah eksistensi lebih berpengaruh daripada esensi yang terkandung di dalamnya?

Aku menyeruput kopi terakhirku, berbarengan dengan rintik terakhir hujan menutup sore dingin yang hangat dengan kehadirannya… mmm, sepertinya dia bergegas pulang. Aku ingin mencegahnya, menahannya lebih lama lagi untuk sekedar membicarakan hal-hal di luar filsafat, kemapanan logika dan esensi kehidupan, atau lainnya, kehidupannya mungkin. Tapi untuk masalah hati aku tidak sefasih ketika berbicara tentang eksistensi religious, eksistensi sosial maupun eksistensi cultural…

Adzan maghrib tiba-tiba hadir memecah pikiranku yang daritadi sibuk sendiri. “Ayo sholat dulu...” ucapnya singkat lantas menghilang begitu saja di pintu keluar kafe. Aku masih duduk termangu, meresapi sisa sensasi yang dia tinggalkan bersama aroma kopi yang menguap begitu saja di senja menghimpit…





Selasa, 10 Januari 2012

10 Januari 2011

Aku pulang dari kampus dengan lemas, jalanku setengah sempoyongan, pandanganku setengah kabur, alamaaak.... rasanya mau pingsan saja hamba.

Sesampainya di kamar, aku ambruk begitu saja di atas kasur lipat yang hanya setebal 2 cm itu. Sementara para santri lainnya sibuk mempersiapkan diri menjelang pengajian ba'da ashar. Tak butuh waktu lama,, satu per satu dari mereka keluar menuju aula Pesantren, dan aku.... aku masih terbaring di atas kasur; setengah berkunang-kunang, kepalaku terasa amat berat. Sempat kubentur-benturkan kepala ini ke tembok kamar, berharap beban berat yang bersarang di kepalaku berpindah ke tembok berwarna biru cerah itu. Hasilnya? Sungguh ajaib! Saya tidak sadarkan diri setelah itu.... (alias tertidur)

Ah.... aku terbangun tepat ketika para santri pulang dari pengajian. Perasaan malu, bercampur sungkan karena tidak mengaji dengan cepat menyergapku, membuatku jadi serba salah dan serba salah tingkah ketika akan keluar kamar. Hufftt.... Tapi biarlah... (lagi-lagi kebiasaan buruk: apatis)

Hari berangsur gelap. Adzan maghrib dengan lantang dikumandangkan para muadzin, menyeruak mega merah di ufuk barat. Dengan kepala penuh dentuman bola besi aku tetap menuju Pesantren untuk mendirikan shalat maghrib, plus istighotsah. Bukan karena perasaan malu jika dilihat teman2 tidak jamaah, atau alasan lainnya. Aku memang merasa butuh, kali ini aku benar-benar butuh untuk menemui Penciptaku.

Saat istighotsah pun tiba, namun pikiranku melayang-layang mencari sesuatu. Ah, kepalaku sama sekali tidak bisa diajak kompromi, malah sekarang dia bersekongkol dengan rasa mual yang menendang-nendang isi perutku. Rabb... kulo nyuwun pangapunten sanget pokok e... mboten betaahhhh ....

Hari demi hari, semakin ke sini rasa-rasanya... hidupku tidak semakin sesuatu. Ah, kenapa jadi susah sekali aku mendiskripsikan perasaan ini? Otakku ikut-ikutan mogok kerja sepertinya. Tapi tetap ada pelajaran untuk hari ini. "Biarlah orang berkata apa. Biarlah orang menghujat apa pun atas dirimu. Jadilah dirimu sendiri. Takut lah hanya kepada Penciptamu yang memberimu kehidupan"


Apatis alias nggak-mau-tahu mungkin kurang baik. Tapi entah lah, terkadang aku bisa jadi sangat bersyukur mempunyai sifat tersebut. Lama-lama aku jadi belajar, tidak ada untungnya juga memperdulikan apa yang menjadi persepsi orang tentang kita, bagaimana mereka memperlakukan kita... terserah lah! Yang penting aku adalah aku, dan begini lah diriku. Cukup lah aku dan Tuhanku berhimpitan di ruang yang tidak akan pernah ditemukan siapa pun.. billahi ta'ala, lillahi ta'ala...



Senin, 09 Januari 2012

Huffft, susahnya memilih salah satu



Seraut wajah itu tiba-tiba muncul di suatu senja sore basah.
Dia benar-benar kembali.
Untuk beberapa saat ditatapnya diriku, bola mata itu masih sama, hanya saja ada sesuatu di sana...
Ah, pilu... aku tak kuasa menatapnya lekat-lekat.
Lantas diraihnya kedua bahuku, dikecupnya kedua pipiku dan aku berakhir dalam dekapannya.
Aku mampu merasakannya, keluh kesah itu... beban masalah itu...
Jiwa yang lamat-lamat meraih kesadarannya...
"Aku merindukanmu, mbak..." ucapku sembari terus mendekapnya.


..............................................
maaf, ingin rasanya kata itu kupatri di lidah ini agar tak lengang aku mengulanginya.
Untuk saat ini aku masih belum bisa untuk bersamamu....
Aku tahu, ini terlalu personal. Egoiskah diriku yang terlalu mementingkan sesuatu selain dirimu?
Ah, seandainya kamu tahu betapa bingungnya ketika aku ditodong harus memilih salah satu.
Tapi akan lebih baik jika semuanya kusimpan sendiri.
Hanya saja... aku masih merasa bersalah dan berdosa, selalu.
Mengapa saja selalu datang ketika aku tak mampu menerima?
Maaf
Maaf lagi
Amanah itu aku titipkan pada orang lain...
Janji itu aku sembunyikan dulu di balik selimut malam....
Sementara aku harus menyelesaikan kewajiban di sini,
You know what?
Aku akan selalu mengusahakan yang terbaik untukmu, mbak...
Tapi kali ini bukan aku....
Maaf :(

Minggu, 08 Januari 2012

Distorsi


Dengan linglung
di ujung kidung mendengung
hati canggung meraung
mananti pancung?


Tidak banyak definisi yang mampu dicerap meskipun semesta sudah berulang kali mengirimkan bentuk kebesaranNya. Jiwa-jiwa terpaku pada dunia semu yang sejatinya tidak akan pernah tertuankan sampai kapan pun. Perjanjian suci dengan Pencipta memudar seiring hasrat yang memberingas untuk berkuasa; menguasai segala hal ihwal atas nama kebahagiaan, kepuasan, kemapanan dan bahkan keabadian.

Pergumulan batin dengan dunia nampaknya tidak lekas berhenti sampai di situ. Hiruk pikuk dunia semu semakin menggemakan euforianya, menjanjikan pemenuhan atas jiwa-jiwa yang merasa kosong di tengah-tengah limpahan nikmat yang seandainya saja mereka sadari. Sementara di lain tempat, yang terpanggil jiwanya akan dengan segera menemukan kembali jalan setapak menuju kekekalan yang tiada habis akan kenikmatan, selamat dari kesesatan.